Situs Gunung Padang Diduga Sudah Ada 10.000 SM

Tim Bencana Katastropik Purba telah melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, di kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Saat pertama kali mengungkap hasil penelitian ini bulan lalu, tim menyebut hasil carbon dating memperlihatkan situs Gunung Padang berasal dari 6.700 tahun lalu atau 4.700 SM.

Namun, hasil carbon dating terbaru memperlihatkan hasil yang mengejutkan. Menurut salah satu anggota tim, Boedianto Ontowirjo, carbon dating menunjukkan Gunung Padang jauh lebih tua dari itu.

Dari sampel hasil pengeboran yang diambil dari teras 5 di titik bor 2 dengan kedalaman 8 hingga 10 meter, hasilnya menunjukkan 11060 thn +/- 140 tahun Before Present, pMC = 26,24 +/- 0,40.

“Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM,”  dua lokasi bor yang dipilih bukanlah titik ‘jackpot’ yang seharusnya dibor. Namun karena situs ini merupakan wilayah benda cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang, tumpukan batuan andesit yang ada tidak boleh dipindahkan dan pemboran tidak boleh merusak struktur situs.

Sebelumnya, berdasarkan hasil pengeboran tim juga memperlihatkan bahwa gunung padang merupakan konstruksi bangunan megah yang dibuat oleh manusia prasejarah. Konstruksinya pun terbilang mengagumkan, karena terdapat suatu lapisan buatan yang memiliki materi pasir.

“Ini seperti teknologi yang mampu menahan gempa”

“Jangan sentuh kawasan situsnya, biarkan zona itu menjadi zona inti dan tetap alami. Pemerintah bisa menata kawasan di zona luar jangan di dalam,” berbagai riset yang dilakukan selama ini harus ditata dan terdata. Karena banyak riset yang dilakukan sudah tidak sesuai aturan dan ada sarat kepentingan, terutama politis.

“Berbagi penggalian yang dilakukan dan pengambilan sampel justru merusak keberadaan situs yang seharusnya dijaga sesuai kaidah konservasi. Semua ada etikanya.”

Pemerintah harus bisa melakukan pemberdayaan ekonomi warga agar mendukung kawasan tersebut.

“Warga di sini kan memproduksi gula aren. Itu bisa dijadikan komoditas yang mendukung sebagai bagian dari wisata situs.”

Semua yang berada di sekitar situs harus diatur dan tersinergi. Bila hal ini tidak dilakukan dengan baik, keberadaan lingkungan di sekitar situs justru akan menjadi malapetaka bagi keberadaan situs megalitikum terbesar se-Asia Tenggara itu.

Tidak sedikit contoh kawasan konservasi yang justru semakin rusak dan tidak terawat akibat tidak ada kebijakan yang mumpuni dalam segi penataan kawasan.

Warga di sekitar Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, juga meminta penataan yang dilakukan pemerintah mengutamakan konservasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Itu untuk mengoptimalkan kawasan situs tersebut sebagai objek wisata budaya dan pendidikan.

Warga sekitar tidak menolak adanya penelitian dan penataan kawasan situs. Namun, menurut dia, penataan harus lebih mengutamakan unsur konservasi dan pemberdayaan masyarakat setempat.

“Harus dilakukan penataan yang sinergi dengan warga sekitar situs, jangan sampai tergesa-gesa karena ingin menarik pengunjung sebanyak-banyaknya.”

Saat ini warga banyak yang membuka usaha warung dan tempat parkir kendaraan. Seharusnya, pemerintah menatanya supaya tidak terjadi perebutan wilayah.

“Pemerintah harus mengajak wargamelakukan pemberdayaan dengan memberikan sosialisasi dan pendidikan tentang cagar budaya, selain itu infrastruktur jalan ke kawasan ini juga harus segera dibenahi.”

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s