Jejak Pembaharu yang Terlupakan

 Indonesia secara sisi historis memang selalu unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam. Ada saja cerita yang menarik seputar perjalanan bangsa dan negara ini. Entah itu dari pembicaraan mengenai sejarah kerajaan, perjuangan kepahlawanannya, kebiasaan dan tingkah laku, dan lain-lain. Hal tersebut jelas, karena Nusantara ini sudah melewati begitu banyak fase dan masa yang menjadi bagian dari sejarahnya.

Islam sebagai agama yang –konon katanya— dianut oleh mayoritas penduduk nusantara dinilai sebagai faktor budaya yang turut mempengaruhi perjalanan sejarah baik makro dan mikro. Pada tingkatan makro tentunya membawa perubahan seperti pada sistem di jaman kerajaan, bangkitnya perang suci (holy war) dalam melawan penjajah, maupun juga konsep-konsep yang berkembang dalam sistem sosial-politiknya. Islam tidak hanya bergerak dalam ranah ritual semata, namun juga sebagai kekuatan resistensi kultural terhadap kolonial.

Dalam tingkatan mikro, masuk dan berkembangnya Islam sebagai suatu budaya dan perspektif membawa perubahan pada cara berpikir dan bertindak masyarakat. Bagaimana masyarakat memandang dan melakukan sesuatu amat berbeda jika dibandingkan dengan pra-Islam di nusantara ini.

“101” Tokoh Lintas Jaman

Lalu bagaimana jika para tokoh Islam dan pembaharu tersebut ditelaah dari sudut pandang biografinya dan disajikan dalam sebuah buku? Pasti akan menjadi sangat unik. Hal ini jelas karena dari cara-cara mereka melakukan dakwah dilakukan secara berbeda-beda. Inilah yang oleh Badiatul Roziqin, Badiatul Muchlisin Asti, dan Junaidi Abdul Manaf sedang dilakukan dengan menulis buku berjudul “101 Jejak Tokoh Islam Indonesia”.

Dalam buku ini, penulis mencoba menelusuri jejak yang dilakukan para tokoh semasa hidup dan mencoba menguak sejarahnya. Walaupun jelas tokoh Islam nusantara tidak hanya berjumlah 101, namun tokoh yang terbiografi secara singkat dalam buku ini cukup beragam dan dapat dibilang mewakili berbagai daerah dan juga dari model dakwah. Pengambilan rentang waktu pun dalam kisaran dua abad, yaitu sejak awal abad ke-19 sampai sekarang, waktu di mana Islam mengalami dinamika dan era penguatan pembaharuan.

Era ini disebut sebagai era penguatan dan pembaharuan Islam karena pada era ini Islam sebagai agama sudah banyak dianut masyarakat. Dengan dakwahnya, disamping sebagai usaha penyebaran agama, dimaksudkan juga sebagai upaya memperjuangkan Islam dalam etika dan budaya pada tingkatan lebih tinggi. Seperti pada jaman penjajahan misalnya, Islam dipandang sebagai suatu halangan laten ambisi kolonial dengan semangat “perang suci”. Kaum penjajah mencoba untuk mempersulit Islam untuk tumbuh dengan berbagai muslihatnya, termasuk diantaranya memasukkan utusannya meneliti Islam dan menggunakan penelitiannya untuk mengadu domba bangsa.

Kesemua hal tersebut dapat kita pahami dengan membaca biografi-biografi para tokoh lintas jaman yang terdokumentasi secara apik dalam buku ini. Karena tokoh-tokoh yang dipilih pun lintas jaman, disamping membaca jalan hidup dan pemikiran mereka, kita juga serasa diajak membaca sejarah di mana tokoh itu hidup. Sebagai contoh pada bagian biografi KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Sedikit yang mengetahui bahwa dia dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri organisasi Muhammadiyah) sempat berguru pada ulama besar yang sama di Mekkah yaitu Ahmad Khatib Minangkabawi dan Machfudz At-Tarmasy. Atau juga HAMKA (H. Abdul Malik Karim Amrullah), sang sastrawan dan ulama legendaris yang merupakan anak dari Abdul Malik Amrullah, pelopor gerakan pembaharuan di Minang, yang juga berguru pada Ahmad Khatib, guru para ulama nusantara.

Dalam beberapa biografinya singkat juga diceritakan mengenai perjuangan dalam perjuangan Islam secara sosial-politik, baik di tingkatan elit dan yang utama pada tingkat kemasyarakatan. Dengan keadaan politik yang fluktuatif saat itu, keberadaan pesantren tidak hanya sekedar sebagai tempat menimba ilmu agama. Pesantren bahkan teramat besar perannya sebagai pusat perkembangan dan resistensi sosial politik atas penetrasi pemerintahan kolonial.

Beberapa tokoh nasional yang mungkin kita mengetahui hanya sebatas perjuangan bersenjata dan politiknya, pada buku ini dikaji dari sisi perjuangan agamanya. Sebagaimana pada biografi H. Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang mengulas gerakannya melalui Serikat Dagang Islam yang berubah menjadi Serikat Islam-nya itu. Juga Syafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Pemerintahan Darurat RI semasa Agresi II yang kemudian mempunyai gagasan pembuatan mata uang sendiri yang kala itu dikanal dengan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) dan pada akhirnya membentuk Himpunan Usahawan Muslimin Indonesia (Husami). Atau Moh. Natsir yang terkenal dengan kelihaiannya berpolitik namun sekaligus juga sebagai cendekiawan muslim yang produktif berkarya.

Tak ketinggalan pula tokoh Islam era sekarang seperti Quraish Shihab dengan jalur politik dan keilmuannya. Juga terdapat pemikiran A’a Gym yang amat berkontribusi pada pengembangan Islam metode baru dengan “Manajemen Qolbu” yang ia dirikan. Pengambilan biografi pun sampai juga pada beberapa tokoh yang dinilai kontroversial, seperti Abu Bakar Ba’asyir (Ketua Majelis Mujahidin) yang menjadi orang penting dalam Jamaah Islamiyah, hingga Habib Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam (FPI).

Hegemoni Kultural

Bagaimanapun kita dapat melihat bahwa secara garis besar pembangunan budaya Islam di Indonesia mempunyai kecenderungan melalui cara-cara “hegemoni” secara kultural. Hal ini jelas dipengaruhi faktor historis bahwa dalam masyarakat kita, budaya-budaya lokal sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam kehidupan yang terlepas dari konteks kebudayaan lokal (global), “hegemoni” kultural pun menjadi metode paling efektif.

Seperti pada Walisongo yang terbukti dengan cara-cara “halusnya” mengubah kebudayaan Jawa dalam hal sosial-budaya dengan Islamnya. Walisongo dalam upaya penyebaran Islam menggunakan beberapa pendekatan yaitu perkawinan, pendidikan, budaya Jawa (lokal), dan politik.

Pendekatan-pendekatan yang oleh para tokoh dalam buku ini diterapkan pada dasarnya adalah pengembangan model “hegemoni”, walaupun mungkin memang hanya terbatas pada beberapa bidang saja. Melalui pendekatan “hegemoni” tersebut, penyebaran dan penguatan Islam di Indonesia dapat berjalan secara efektif. Penyebaran dan metode dakwah yang mencoba masuk melalui kehidupan keseharian seperti pendidikan dan budaya, akan dapat lebih mempengaruhi ketimbang penyebaran-penyebaran formal. Dan pada tingkatan yang lebih makro, pendekatan politik di tataran elit adalah metode yang digunakan.

Melalui buku ini, kita pun dapat merangkum sebuah garis imaji sejarah nasional yang berhubungan dengan membaca satu biografi tokoh satu dengan tokoh lain. Biografi yang tertulis dalam buku ini ibarat pecahan-pecahan yang membentuk jaringan informasi yang saling berhubungan. Dari sudut pandang biografi, kita dapat mencerna beberapa aspek. Antara lain hubungan antar tokoh dan pastinya pemikiran dan model dakwah mereka yang memasuki ranah kehidupan manusia secara kontekstual. Hal ini karena tidak mungkin pembangunan moral dan agama dilakukan melalui cara-cara represi dan peraturan negara. Lebih lagi, kita dapat mencerna makna kehidupan dengan kebijaksanaan mereka, atau paling tidak sedikit berkenalan dengan pemikirannya. Perjuangan belum selesai.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s