Mendalami Bahasa Perasaan, Menemukan Spiritualitas

Pada suatu musim semi di desa, ketika harus melewati ladang dan semak dari pepohonan Jagung, tanpa sengaja, saya telah mengekspresikan ungkapan puitis yang sudah puisi. //musim jagung yang kulewati/ mendadak cinta/ dengan angin/ yang berasal dari jejak waktu//. Mulanya tidak ada dalam dugaan, bahwa perjalanan di musim semi itu—yang saya angankan—juga bagian dari perasaan dan ide yang menyatu sehingga membentuk fragmen peristiwa. Musim semi, yang bagi manusia umum hanya realitas yang biasa, namun di dalam fragmen peristiwanya terkandung kalimat filosofis.

Selidik punya asal, ketika memahami musim semi sebagai bagian dari diri, dalam penyatuan dengan alam, maka akan trejadi transformasi antara ruang makrokosmos dan mikrokosmos hingga sampai yang metakosmos di dalam sebuah pencarian, dalam jalan panjang. Dari situ, saya berusaha untuk merasakan menjadi puisi yang tidak sebatas perasaan, untuk menyentuh “wilayah dalam” sebagai sebuah perjalanan memahami. Setidaknya, ada “ruang kesadaran” yang membuat diri seolah-olah telah masuk pada lorong panjang dan melihat berbagai fragmen peristiwa: tepatnya fragmen karena masih ada serpihan-serpihan lain, yang saya tidak tahu kapan akan muncul dengan membutuhkan “penundaan” untuk mengerti lagi. Dan, tampaknya bahwa “memahami suatu teks untuk masa sekarang adakalanya perlu untuk tahu latar belakang pengarangnya”—begitulah pendapat aliran Romantik.

Saya berusaha mendalami sajak-sajak di dalam buku Pilar Penyair dengan seolah-olah mengalami (dengan juga berandai menjadi aku di dalam sajak), bahkan sampai membutuhkan penundaan untuk mengerti ruang-ruang yang mereka tampilkan. Maka, saya harus berkeliling pada kebun yang luas, dan mengamati sebagian-sebagian, yang layak untuk dicatat.

I. Kepekaan sebagai Sumber Kreativitas Titik Yayuk Wijayanti

Puisi bermula dari kepekaan seorang penyair terhadap realitas. Konon, dari situlah kreativitas penyair itu bertaburan, yang kemudian tumbuh menjadi puisi yang sangat berharga. Dunia romantis, dan dunia sekeliling merupakan wilayah kreativitas bagi penyair dalam menggali ide. Dan, penyair haruslah peka terhadap dirinya sendiri dan sekelilingnya.

Pada sajak berjudul “Jejak Hidup” karya Titik Yayuk Wijayanti ada citra dalam romantika suasana karena ada kepekaan dari penyair. //seperti secangkir teh/ yang mengalir bersama darahmu/ membuat jejak hidup di setiap waktu//. Hal itu terjadi karena bahasa yang merepresentasikan realitas dapat memahami esensi dari meminum teh melalui sisi lain yang kecil (partikular). Fenomena yang sepele, akhirnya menemu makna yang lebih dalam sebagai komponen bahasa yang utuh. Keindahan seperti ini merujuk pada diri penyair yang memandang keharmonian. Sebenarnya, dalam ini, saya berharap untuk menemukan pandangan penyair terhadap alam raya yang menampilkan ruang spiritualitas secara visual sehingga memunculkan kesan filosofis yang selaras. Dalam itu, saya juga berharap ada kejujuran dari realitas sebagai impresi penyair dalam mengeksplorasi pertautan antara suasana dan konsep. Hanya saja, sebagai penyair, Titik Yayuk Wijayanti, tidak sepenuhnya memiliki kematangan itu, banyak sajak lain yang lebih mengunggulkan perasaan dan dunia angan (renungan) dalam kesendirian. Padahal, ia telah memiliki kepekaan yang dapat menjadikan segala bentuk di sekitarnya menjadi puisi, dengan mencermati dan mengamati.

II. Romantisme dari Dunia Imajinasi Cinung Azizi

Ketidaklangsungan ekspresi pada puisi dalam moment tertentu memiliki daya imajinatif yang kuat dan utuh. Refleksi masa lampau yang hadir pada ingatan penyair dapat menjadikan kesatuan sematis, kemudian tersusun sebagai sistem makna. Cinung Azizi dalam sajak “Mengenang Daun” mengatakan: //Bila kau lihat senyum mentari di senja nanti/ Hendaklah kau ingatKita pernah berjanji akan melihatnya dan berlarian di antaranya/. Di dalam sajak itu, terlihat susunan kata yang dipilih oleh Cinung Azizi untuk membentuk makna secara semantis dalam merefleksikan ingatan pada suatu sore. Sore adalah moment yang berada di antara terang menuju gelap, yang berarti ada suatu kejadian/peristiwa (yang kemudian akan terpisah) sehingga suatu waktu (setelah penundaan) menjadi dikenang. Betapa kata “ingat”, kata “kenangan”, dan pernyataan mengenai waktu begitu sering disebut-sebut oleh penyair yang sedang sendirian membayangkan kejadian lampau. Ia merasa bahwa kebahagiaan berada di masa yang jauh sehingga perlu dikenang dalam waktu sekarang: tentunya, oleh penyair yang sedang sendiri itu.

Ada bentuk eskpresi yang tergerak melalui sebuah angan dalam berharap dari masa lampau. Harap itu muncul pada mentari di senja—yang mungkin dalam lamunannya indah—untuk bisa menjadikan ia ingat pada waktu sekarang. Kemungkinan, kejadian itu sebagai harapan karena muncul dengan kata “bila”, yang masih dalam rumpun pengandaian untuk sebuah keinginan. Harapan dari masa lampau yang akan terwujud sekarang di puisi menjadi peristiwa yang menyenangkan. Keinginan itu muncul di dalam lamunan untuk masuk pada ingatan yang menyenangkan karena sebuah janji. Tetapi, di sini, perasaan itu muncul menjadi imajinasi kreatif yang mendorong penyair menggunakan bahasa yang bersifat referensial. Dan, beginilah kerja manusia melalui ingatan untuk selalu sadar pada posisinya, meskipun hal itu telah sebagai masa lampau. Dan, manusia yang peka akan selalu mendorong imajinasi kreatif untuk mencipta dan berkarya. Begitulah puisi ditulis oleh penyair yang senang dengan dunia yang romatis.

III. Ekspresi Puitik Maria yang Representatif

Puisi ditulis dengan menampilkan ekspresi puitik dari penyairnya. Ekspresi puitik dari seorang penyair dapat saja hadir untuk menunjuk pada makna. Untuk menjadikan puisi itu memiliki nilai ekspresi yang puitik, maka penyair memilih ungkapan yang berbeda dan mengandung imajinasi. Bentuk-bentuk konotasi yang menggantikan realitas dapat menjadi arti-arti baru. Semisal pada sajak “Resah Itu Kembali Merekah” karya Mariatul Kiptiah: //lagi-lagi lelaki/ mencoba mengusik/ setelah kuputuskan untuk setia/ pada puisi/ dan bunga merekah/ dan kelopak terbelah//. Dalam sajak itu, pernyataan “bunga merekah dan kelopak terbelah” merupakan idiom (sebatas metafora) sehingga menjadi baru dalam bentuk konotasi. Adanya kata [dan] sebagai penghubung sangat membingungkan karena di dalam puisi tersebut tidak ada kesejajaran antara bunga merekah juga kelopak terbelah. Mungkin saja, bunga yang dimaksud sebagai idiom atas keterlukaan si aku yang lebih memilih puisi, namun karena ada laki-laki sehingga si aku yang sedang merekah menjadi terbelah.

Dalam beberapa kejadian tertentu, kesedihan dapat menjadi ekspresi puitik. Dan, sajak-sajak yang ditulis oleh Mariatul Kiptiah banyak menjadikan kesedihan sebagai objek yang harus diungkapkan. Dalam sajak “Tangis Senja” dia menyatakan //kupungut setiap air mata/ kurangkai menjadi jalinan permata/ hingga kerlapkerlipnya terjuntai/ menyusuri lembah hatimu//. Model ungkapan serupa juga dapat ditemui dalam saja “Anak Gadis Perantauan”, “Cinta di Musim Hujan”, “Lumut di Musim Cinta”, dan “Gerimis Sore”. Adapun sebagian lain, ekspresi puitik dari Mariatul Kiptiah hadir dalam nuansa cinta yang sebatas pertemuan.

Melakukan eksplorasi terhadap kehidupan untuk menghadirkan ekspresi puitik tidak hanya hadir begitu saja, namun membutuhkan bahasa untuk menampilkannya. Bahasa di dalam puisi tidaklah netral untuk menyampaikan pesan dalam melukiskan kehidupan, namun memiliki berbagai kemungkinan karena mencipta berbagai ambinguitas. Oleh karena itulah, satu kesatuan dari puisi dapat mencipta realitas baru dengan adanya bahasa.

IV. Imajinasi Spontan Yanwi Mudrikah Membentuk Metafora

Memahami puisi ada kalanya perlu masuk sebagai “aku” yang ada di dalamnya. Hal ini karena, dapat saja sajak merupakan pantulan spontanitas penyair mengenai fenomena, perasan, dan ide yang seketika itu dialami oleh penyair. Setidaknya, kalaupun saya gagal menemukan makna, saya dapat menemukan sisi psikologis “aku” yang membentuk citra estetik. Yanwi Mudrikah dalam sajak berjudul “Gadis Kecil” tampak mengungkapkan mengenai fenomena yang muncul secara spontan. //Gadis kecil mengejar langkahku/ Turun ke bumi/ Mengejar bayang-bayang mimpi/ Dalam angan yang beruntun//. Tentunya di dalam sajak “Gadis Kecil” merupakan fenomena, yang membutuhkan konteks untuk menemukan maknanya karena tidak ada sistem penandaan yang direncanakan sebagai konsep untuk mengarahkan perhatian di dalam medan wacana. Yang ada di dalamnya adalah fragmen peristiwa yang sangat personal sehingga secara spontan membentuk metafora. Maka, untuk membacanya harus seolah-olah terlibat dalam fragmen tersebut.

Saya memahami, berarti saya harus menerima seluruh kemungkinan yang terbentuk oleh berbagai macam kehendak sajak tersebut—yang mungkin posisinya tidak pernah disadari oleh penyair—membentuk suatu perjumpaan dengan realitas. Dengan kata lain, ada realitas yang dibentuk dalam bahasa dan menghadirkan realitas baru. Oleh karena itu, kehendak perasaan yang memunculkan spontanitas menulis sajak sebenarnya juga suatu ruang untuk dikenali sebagai gambaran. Proses itu merupakan cara teks berwujud.

Yanwi Mudrikah dalam sajak berjudul “Kenangan” mengungkapkan //Genangan air mata itu/ Memahat tubuh-tubuh yang berada di tepian kawah/ Melebarkan guratan/ Yang penuh dengan masa lalu//. Di sini, sebenarnya kesatuan tanda telah dibangun untuk berhubungan. Hanya saja, efek estetik yang muncul melalui dunia angan masih teringat oleh si aku. Dalam sajak tersebut, tampak kekuatan spontanitas dalam menampilkan sajak. Spontanitas adalah wilayah ekspresi, entah karena sublimasi, maupun dorongan dari jiwa yang memantul berdasarkan visi dan misi sosio-kultur. Dalam hal ini, saya tidak bermaksud menalarkan konsep penciptaan, tetapi karena saya berusaha untuk menemukan asal-usul melalui organ yang halus dari puisi dalam menampilkan bentuk: dapat juga dikatakan sebagai background. Di sinilah, teks itu hadir, dan saya pahami, meskipun yang tersisa adalah “jejak-jejak”nya sehingga saya harus berfantasi menemukan keseluruhan dari fenomena sebagai entitas.

Pada sajak “Di Bibir Pantai” karya Yanwi Mudrikah, sebenarnya telah ada transendensi yang dibangun melalui sebuah perasaan. Hubungan yang mulanya imanen, kemudian menjadi transenden. //Di bibir pantaiKau mengulum bulanDalam batas gelombangAku berada padaSerpihan-serpihan kerang/Tawakal dalam remuk badaiHingga waktu yang entah//. Kita bisa melihat betapa singkat sajak itu; sebuah “angan kata-kata” yang lewat melalui renungan sekilas, kemudian mampu menopang efek yang tepat antara [serpihan kerang dan tawakal]. Pengharapan mengenai fenomena yang dilematis disikapi oleh si aku dengan sebuah totalitas setia. Ada renungan yang muncul dalam bentuk keindahan kata-kata, kemudian kata-kata itu menampilkan pujian ruhani karena masuk pada wilayah transendensi sehingga terjadi dielektika pada ruang lain.

Adapun yang masih menjadi keprihatinan, yakni saat bermain-main dengan dunia sajak, Yanwi lebih banyak menjadikan alam untuk ditarik pada dunianya sebagai metafora. Hal ini tidak mendorong pada kesatuan mikrokosmos dan makrokosmos karena susunan simbol kadang dipaksakan untuk sesuai dengan perasaannya. Mungkin untuk permasalahan ini, saya harus berpikir adanya kesadaran dan ketaksadaran yang telah menjadikannya memilih puisi sebagai persatuan antara yang tampak dan tak tampak. Inilah yang memberatkan untuk menghadapkan diri dan mengalir pada wujud simbol yang tumbuh melalui angan karena kehadiran simbol sangat subjektif. Betapa dalam itu, metafora dan metonimi ditarik untuk menyatakan keadaan diri, yang mungkin tanpa itu—wujud kebaktian seorang sebagai penyair pada teks terluap sebatas ekspresi. Mungkin jika simbol itu muncul dalam “aksi”, maka akan mudah masuk melalui kerangka etimologi dan epistemologi.

V. Dunia Romantis dan Kesadaran Berbahasa Bagi S. Diah

Puisi diungkapkan oleh penyair melalui ketaklangsungan ekspresi. Aspek penciptaan puisi yang terpenting ialah dekonstruksi kata-kata. Dalam hal ini, bukan berarti kata-kata diacak atau dihancurkan, dan dipaksakan oleh kehendak pernyataan penyair untuk menerangkan maksud, tetapi kata-kata merupakan pengalaman empirical. Di dalam puisi, ada bentuk bahasanya memiliki kesatuan makna dengan tepat dan segar dengan kecermatan menyusun kata-kata. Puisi diciptakan oleh penyair dalam rangka mengungkapkan informasi tersebunyi, yang kehadirannya begitu dekat, dan tidak disadari oleh kebanyakan orang.

Penulisan gagasan menjadi teks puisi sangat dipengaruhi oleh kemampuan penyair menginterpretasikan, dan memandang objek melalui jangkauan pemahaman dengan kesadaran berbahasa. Hal itu dalam rangka menghadirkan kebaruan gaya bahasa, dan kandungan estetik. Akhirnya, puisi tersebut tidak mutlak bersifat emotif, sedangkan ekspresinya sebagai warna atau watak penyair. Bagi S. Diah, pengalaman mengenai rasa sebuah cinta merupakan rangkaian estetik untuk membangun kode yang akan ditransmisikan dengan bahasa yang sangat disadarinya. Sajak berjudul “Selaut Rindu” terbangun dengan beberapa kode dari perasaan. //bila senyum yang renyah itu aku kunyah/ dan menyimpannya rapi di laci/ apakah kau menjelmarasakan hal yang sama//. Dalam kutipan tersebut, memang tak ada tubuh yang diperbandingkan, tapi ada perasaan yang sulit terjelaskan diperbandingkan dengan seolah-olah dapat dirasakan oleh tubuh sebagai kesadaran ungkap, yakni [senyum yang renyah itu aku kunyah]. Di sini, pengalaman rasa romantis menjadi obsesi yang tertangguhkan sebagai bentuk perbandingan dengan bahasa yang cermat.

Hal lain yang perlu dicatat, dari kepenyairan S. Diah adalah pemilihan bahasa ungkap yang tepat sebagai illustrator. Penggunaan pada tanda baca dapat menjadi cara untuk menemukan makna, yakni seperti pada sajak “Mengetuk Memori” //melewati tiga malam, sepi/ menghakimi diri, pemimpi/ hanya menatap, tak ada ucap/ tak ada dekap, tak ada jabat, tak ada//. Di dalam kutipan itu, ada penentuan tanda baca yang menjadi bentuk ketidaklangsungan ekspresi. Selain itu, ia juga gemar bermain-main kata sambung me-kan dan –kan untuk menggabungkan dua kata, semisal [menjelmarasakan], [mencemasperihkan], [menyoalperkarakan], dan [menemutujukan], serta [remukbubukkan] dan [hilanglenyapkan]. Tidak banyak penyair yang sadar untuk memainkan bahasa tersebut, namun ia sadar. Itulah yang membuatnya juga pada akhirnya memiliki kesadaran emosi, kedalaman perasaan, dan sentuhan jiwa, yang diungkapkan dengan bahasa indah.

  1. Lia Indriani Tampil Membahasakan Perasaan

Pada beberapa puisi, bahasa dapat saja hadir sebagai ekspresi perasaan. Sebagaimana definisi Suminto A. Sayuti[1] bahwa puisi adalah karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa secara khas. Mungkin ini juga yang menjadi konsep berpuisi dari Lia Indriani, yang berusaha untuk mentransformasikan perasaan sehingga yang tidak tampak seolah-olah menjadi tampak dengan adanya pengandaian-pengandaian untuk membentuk metafora. Lihat saja pada sajak di bawah ini. //Ingin kubiarkan saja jantungku lari menemuimu/ Agar lepas dari terpenjara/ Seperti angin melanglangbuana//. Dalam baris-baris sajak dari Lia Indriani yang berjudul “Dua Jantung” tersebut membicarakan perasaan-perasaan yang menggelora dalam bahasa yang sangat ekspresif. Makna sajak tersebut lebih terlihat pada perasaan penyair dengan satu keadaan yang mungkin terbangun karena adanya potensi kekuatan (power) untuk bebas. Bahasa disusun dengan membicarakan luapan perasaan seperti “jantungku lari menemuimu” sebagai ketakmungkinan, tapi itu hadir dengan metafora sekaligus metonimi yang merepresentasikan besarnya perasaan sehingga terbayang satu gelora. Jantung merupakan detak kehidupan dari seseorang, yang berusaha untuk dilepaskan agar bebas. Ini berarti ada gelora perasaan yang ingin keluar untuk menemukan dunia harapan dari si aku, yang kemudian ditunjukan pada Tuhan karena si aku hanya mampu dengan surat al-Fatihah.

Dunia perasaan memang ruang kontemplatif bagi penyair untuk bergerak melampui batas, walaupun realitas tidak memungkinkan. Setidaknya, ada “dunia harap” melalui Tuhan untuk mewujudkan perasaan itu nyata terwujud. Pada bagian inilah, saya berani mengatakan bahwa puisi tidak hanya dunia pengarang itu sendiri, melainkan ciptaan pengarang yang disusun dengan bahasa. Perwujudan bahasa itu dapat saja ekspresif, terkait dengan sudut pandang penyair dalam menyikapi fenomena.

Kekuatan puisi dengan adanya gelora perasaan dapat terwujud pada bahasa untuk menampilkan daya jangkau imajinasi penyair. Lihat pada sajak “Cahaya yang Menipu” karya Lia Indriani: Kau yang menyentuh dan memberiku cahaya/ Kita melebur di atas surga. Di dalam itu, ada perasaan-perasaan pribadi dengan lebih mengutamakan emosi sehingga terbangun dunia khayal yang logis. Kekuatan bahasalah yang dapat menopang perwujudan perasaan, yang posisi sebenarnya jauh terpendam. Di sini, puisi sebagai refleksi yang dapat diterima sebagai ilustrasi perasaan dengan berbagi penandaan.

VII. Eka Safitri dalam Ruang Imajinasi Kreatif

Imajinasi kreatif bagi beberapa orang ada dalam renungan, dan itulah yang kadang dilakukan oleh penyair. Dalam teori sosial, merenung dianggap sebagai tindakan subjektif karena hanya dapat dimengerti oleh perenung itu sendiri. Pada konteksnya, memang demikian adanya, merenung tersembunyi di antara kesunyian dan merefleksikan dunia bayang-bayang sebagai proses pencarian antara yang real dan Yang Real.[2]

Di dalam sajak “Seusai Sembahyang Embun” Eka Safitrai dengan jelas menemukan kreativitas yang imajinatif. //Tuhan ada apa dengan hari ini?/ Hingga diri ini tak mampu/ Melihat di pelupuk mataMu//. Imajinasi yang kreatif selalu memunculkan penciptaan karena ada transformasi antara dunia pikir, gambaran kejadian, dan realitas. Realitas di dalam imajinasi tidak akan senyata fakta sehari-hari, melainkan gambaran yang telah terkonsepkan. Oleh karena itu, kehadiran Tuhan sebagai Yang Real dapat ditampilkan dengan adanya “pelupuk mata”, meskipun si aku mengatakan tidak dapat melihat, tapi kenyataan bahasa menyebutnya ada. Akal memang mendorong manusia selalu ingin tahu, belajar kepada apa saja, bahkan menjangkau realitas dengan imajinasi untuk mencari rahasia kehidupan yang belum terungkap. Dalam kegiatan tersebut, puisi terlahir dari apa yang pernah ditangkap panca indra penyair, kemudian berdialektika dengan wawasan dan pengetahuan. Ungkaplah misalnya, sajak “Kata Bertuah” //Dalam hening/ Terdengar lafal doa yang menggetarkan/ Seluruh cakrawala//. Di dalam sajak ini, kalau hanya kerja imajinasi tidak akan sampai pada ungkapan bahwa [doa dapat menggetarkan cakrawala]. Tentunya, wawasan dan pengetahuanlah yang membimbing penyair untuk merefleksikan “kekuatan rasa” dalam memahami hakikat doa untuk bertuah sampai menggetarkan kumpulan malaikat penjaga takdir.

Tidak banyak penyair yang mampu masuk pada imajinasi kreatif, selain memang dirinya dekat dengan pengalaman spiritual. Namun, di sini, ada dunia imajinasi yang berkembang menjadi penciptaan kreatif sesuai dengan bimbingan jiwa. Tapi, bisakah kesadaran macam ini dipertahankan; hanya jiwa yang ikhlas pada puisi untuk menerima setiap rasa sebagai pengetahuan yang bisa mempertahankan.

VIII. Krisnanto yang Menyusun Metonimi Sunyi

Kesadaran untuk menyampaikan sesuatu hal yang informatif melalui perwakilan bahasa dapat menjadi efektif apabila berada pada orang yang memahami hakikat hidup dan seisinya. Kesadaran memahami alam semesta sebagai puisi sangat disadari oleh Krisnanto sebagai ungkapan yang singkat, ungkapan yang cukup untuk mewakili situasi dan realitas. Dalam sajak “Akhir Waktu”, dia mengatakan//Mataku untuk wajahmu/ Hilang terpendam sepi/ Dalam batu tak bernyawa//. Ungkapan ini sangat singkat, namun mewakili dunia untuk mengilustrasikan akhir waktu: ada kepasrahan dari si aku dengan merelakan matanya, yang kemudian hilang menjadi sepi. Setelah itu, dilanjutkan dengan [batu] sebagai simbol mengenai keadaan raga yang telah mati. Betapa kata-kata yang singkat dalam nuansa yang sunyi telah menjelaskan fenomena yang sangat panjang. Metonimi sunyi muncul juga pada kata “kamboja” untuk mewakili adanya nuansa kematian, yang senyatanya bunga kamboja banyak ditemukan di pemakaman.

Penggambaran sunyi bagi Krisnanto menjadi sangat penting dan bukan sebatas renungan, melainkan pengilustrasian dari bentuk kematian, doa, dan pemahaman waktu (semua itu berada dalam sakralitas). Ia mengetahui bahwa yang sakralitas dengan ketajaman intuisi adalah puisi. Puisi tidak membutuhkan kemulukan cerita yang panjang karena pada hekakatnya kehidupan telah menjadikan tanda-tanda, yang dapat sebagai potensi puisi. Dan seorang penyair tidak perlu memuisikan kehidupan yang sudah puisi, tinggal bagaimana seorang penyair dapat memahami tanda-tanda (gerak) dalam alam semesta. Semua itu adalah wujud sekaligus isi mengenai tatanan kehidupan.

IX. Kehebatan Agung Mempuisikan Pernyataan

Dalam menulis puisi, ada kalanya ide, perasaan, dan dunia pribadi lainnya akan termanifestasikan di dalam bahasa yang indah. Dan itu adalah sosok yang menampilkan identitas secara utuh dalam batas maksimum karena hadir pada strategi pemilihan bahasa—yang dilakukan secara asal-asalan ataupun dengan kesadaran untuk menampilkan makna secara utuh. Bagaimanapun, sebuah bahasa hadir tidaklah dalam kerangka otonom karena posisinya di dunia ini ternyata dapat menciptakan makna lain. Dari situlah, puisi—setidaknya—merepresentasikan perwujudan kepenyairan seseorang. Aspek bahasa pada puisi menampilkan citra, yang dari itu bisa teridentifikasi, sebelum masuk pada interpretasi berikutnya, entah makna maupun efek dari teks.

Di dalam sajak berjudul “Annelis”, Werdi Agung Soewargono mengungkapkan: //Annelis/ Di suatu senja nanti/ Kan kau temukan lorong-lorong/ Antara kau dan aku//. Di dalam sajak itu, Werdi Agung Soewargono menampilkan ide untuk menyatakan perasaan (sebagai dunia pribadi) yang dikemas dengan bahasa indah. Meskipun hal itu sebagai bentuk pengemasan, namun menampilkan makna tersendiri yang membutuhkan penafsiran. “Lorong-lorong antara kau dan aku” secara sematis menimbulkan pandangan informasi lain: dapat berarti jalan panjang, liku-liku kehidupan, pertemuan perasaan, atau kemungkinan lain yang serupa. Cara pengungkapan dari Werdi Agung Soewargono yang demikian, dapat ditemukan di sajak “Biarlah”, “Adakah Diriku”, “Terlalu Indah”, “Kelabu”, dan “Ada yang Lain”.

Adapun cara ungkap lain dari perpuisian Werdi Agung Soewargono dalam bentuk narasi, difungsikan untuk merepresentasikan informasi visual. Lihat saja pada sajak “Khusuk” berikut. //Angin kembali menyeka/ Debu dari wajah daun-daun/ Dan kelelawar mulai membuka mata/ Berharap mahatari segera ditelan senja// Dari balik satir reyot dan berlobang/ Seorang gadis dengan berjuta mutiara rasa/ Menapaki untaian lorong senja// Dalam dekapan dingin/ Dan gemercik tasbih/ Sang gadis tertawan nikmat/ Bercumbu dengan doa//. Di dalam sajak tersebut, bukanlah sebuah pernyataan, melainkan narasi alegoris untuk memperbandingkan rasa khusuk dalam beribadah dengan menampilkan nuansa religius dan simbol ‘gadis’ untuk memperjelas informasi. Simbol ‘gadis’ dalam pandangan sufistik identik dengan keadaan kekasih untuk tunduk, namun di sini menjadi subjek yang berada di dalam ritus. Maka daripada itu, tidak ada aku lirik di dalamnya, dan lebih sebagai narasi yang menampilkan ketidaklangsungan ekspresi karena ada simbol yang saling bertaut.

X. Kesetiaan Dimas Indianto S., pada Metafora

Kesetiaan metafora dalam pandangan semiotika komunikasi dapat menjadikan konvensi pesan untuk dipahami. Kesetiaan metafora dapat terjadi dengan adanya pola pada beberapa sajak. Dalam ”sajak Nadzom Cinta”, Dimas Indianto S. menampilkan //Setiap malam, seusai rembulan menggelar selendangnya/ Di pelataran langit,/ Kubaca-baca puisi yang terbawa angin malam/ Yang muasalnya tak berarah//. Pola metafora yang disusun akan dikuti dengan kata “yang” sebagai pemerjelas. Kata “yang” sebagai penghubung frase akan menjelaskan metafora sebagai inti sehingga dapat terpahami maksud yang hendak disampaikan.

Dalam sajak “Mencari Tahajud yang Hilang”, ia memiliki keliaran bahasa untuk mencoba menyatukan berbagai idiom, namun karena adanya pola penjelasan (dalam beberapa bagian tidak menggunakan “yang”) sehingga dapat teridentifikasi. Pola itu dapat dirunut satu keutuhan “saluran” untuk menghubungkan dengan kode lain. Hanya saja, pemilihan idiom oleh Dimas Indianto S. terlalu banyak kesamaan dengan sajak lainnya. Idiom ‘bulan’ dan ‘cahaya’ begitu seringnya mewarnai puisi-puisinya. Dalam itu, ia kemudian melompat pada ungkapan-ungkapan lain.

XI. Realisme dari Dwi Setyowati

Puisi adalah pandangan penyair mengenai realitas, baik lingkungan sosial-budaya maupun wilayah transenden. Realisme di dalam puisi merupakan suatu paham untuk menguggah perasaan dengan melukiskan penderitaan rakyat yang selalu didasari dengan kesadaran sosial. Melalui bahasa, puisi mengalirkan pesan sebagai suara kecil ke rongga tubuh untuk menggetarkan bulu-bulu halus sehingga derita rakyat menjadi terdengar. Begitulah harapan yang tercetus dari Dwi Setyowati melalui puisi sehingga ia menulis “Sekolah Gratis di dalam Mimpi”, “Guru Honorer”, dan “Di Jalan”. //Presiden telah mengumumkan/ Sekolah gratis,/ Dalam mimpi// Pernyataan tersebut merupakan sindiran terhadap pemerintah untuk membawa masyarakat bahwa realitas yang selama ini ada hanyalah mimpi. Ia berusaha untuk membangun wacana dari realitas yang ada untuk dihubungkan dengan sesuatu yang lain (the other). Puisi Dwi Setyowati memang tak sepenuhnya bebentuk kritik sosial, namun ia juga menampilkan “realisme-kreatif”[3].

Sayangnya, tak sepeuhnya, Dwi Setyowati berada pada jalan itu. Sebagai diri manusia, ia kerap disibukkan dengan permasalahan cinta (dalam sajak “Makcomblang”, “Cinta Gelas Borot”, “Membangun Lautan”, “Matahari Terbit di Wajahmu”, dan “Kau Bukan Debu”) dan beberapa pertanyaan tentang diri yang tak sempat dijawab (dalam sajak “Tanya”. Memang, harus diakui, bahwa cara ungkap dari Dwi Setyowati sangat realis. Semisal pada sajak “Cinta Gelas Borot”, //Jangan tuang air cintamu di gelas yang borot/ Sungguh sia-sia/ Ia tak cukup tenaga untuk menampungmu/ atau pada sajak “Membangun Lautan”, /Semuanya kuyu/ Ikan Hiu,Piranha dan hewan-hewan laut yang garang/ Menggelepar-gelepar di atas pasir/ Retak-retak//. Dalam dua kutipan dari sajak berbeda tersebut, terlihat bahwa Dwi Setyowati berusaha untuk menggunakan bahasa dengan membutuhkan dialektika antara diri dan lingkungan sosial. Dengan gerak lambat, puisi menampilkan komposisi naturalistik yang diucapkan dengan bahasa singkat dan padat, serta dalam bentuk perumpamaan. Seperti benang-benang, keseluruhan dari puisi adalah susunan pesan dan wacana baru.

XII. Dakwah Indra Aditiyawarman di dalam Puisi

Ketika memosisikan puisi sebagai pesan yang harus diterima oleh pembaca secara pragmatis, maka puisi dapat saja sebagai media dakwah. Dan hal ini juga diperlukan di dalam puisi karena pengaruh hedonisme akhir-akhir ini mampu menggelapkan mata batin anak-anak muda. Pengaruh ini karena adanya hubungan sosial antarmanusia yang dapat memberikan sugesti sebagai sikap dari dalam dirinya. Banyak anak-anak muda terjerumus pada kesesatan, gelomor, gemerlap, dan modernisasi dengan mengikuti tren-mode. Apabila hal ini tidak disadari, maka kerusakan demi kerusakan pada generasi penerus bangsa akan berkembang dengan pesat, dan efek buruknya, yaitu rusaknya moralitas yang luhur dari sistem nilai.

Di dalam sajak “Jalan Kehidupan”, Indra Aditiyawarman menyampaikan sebuah pesan: //Pada setiap sulaman muka manusia/ Kutemui jalan Guruku atas mereka/ Kucari setitik noktah pada setiap sulaman itu/ Namun tak kutemui pula selain jalan Sang Guru//. Di dalam sajak itu, dengan jelas ada anjuran untuk berbakti pada guru sebagai jalan yang harus ditiru. Ada pengalaman-pengalamannya berdasarkan realitas yang masuk dalam ruang imajinasi sehingga puisi bukan fakta melainkan sesuatu yang faktual sebagai pesan. Hal itulah yang mendorong puisi masuk pada bagian perlokusi dengan adanya seruan-seruan, baik melalui pernyataan maupun pertanyaan yang masuk ke batin pembaca. Misalnya saja, pada sajak “Mahardika”, //Merdeka/ Untuk siapakah ia digemakan?/ Merdeka/ Untuk siapakah ia diperjuangkan?//. Di dalam sajak tersebut, pertanyaan menjadi menyentak pembaca yang telah merasa merdeka sehingga menjadi perlokusi.

Model penciptaan puisi seperti yang dilakukan oleh Indra Aditiyawarman banyak muncul dalam penyair-penyair yang memiliki kepentingan secara ideologis untuk menyampaikan pesan. Oleh karena itu, terasa ada ajakan-ajakan untuk masuk pada puisinya sebagai sebuah kebenaran.

XIII. Narasi Metafora Angga Aryo Wiwaha

Puisi yang bernarasi tidak mesti harus berisi retetan kisah yang panjang atau bentuk balada, namun dapat juga merupakan kumpulan metafora yang dibebaskan. Oleh karena itu, perwujudan bahasa yang ada di dalamnya seolah-olah bentuk cerita yang bebas dengan tanpa diduga telah masuk pada metafora. Angga Aryo Wiwaha tampaknya melakukan itu untuk memunculkan wacana di dalam puisinya. Seperti pada sajak “Capung”: Beterbangan kian ke mana, seekor capung hinggap di putik yang tidak perawan. Sepertinya tidak canggung pula dia dengan ekor menua panjang, sayap empat seumpama keajaiban, hingga mata kelopak yang kadung mencerna ribuan dunia. Dia seolah-olah bernarasi mengenai capung yang dalam cerita itu tersusun sebagai metafora dari fenomena lain sehingga membentuk alegori. Hal itu dapat dirujuk pada pernyataan Capung yang berkendara angin lalu mendengkurkan amin untuk doa teman putiknya. Adanya metafora yang dibebaskan sehingga ia bisa kelur dan masuk pada dimensi yang berbeda dengan tetap menangguhkan struktur narasi pada kehidupan capung.

Bentuk wacana di dalam puisi tersebut berada di dalam lingkaran perumpamaan yang simbolik.Simbol itu bukanlah bimbingan yang membingungkan, namun pilihan ungkapan yang difungsikan untuk menjelaskan realitas. Ia mengilustrasikan pengetahun untuk ditransformasikan melalui bentuk analogi. Pemakaian bentuk analogi ini tentunya menggunakan bahasa-bahasa yang dekat dengan kehidupan wacana yang lebih kontekstual. Tanpa itu, semua isi menjadi monoton, tidak berkembang, dan terasa sangat asing. Penjelasan-penjelasan itu menjadi serangkaian simbol dikarenakan adanya seperangkat tanda di dalam perumpamaan. Dalam sajak “Bacalah” misalnya, Bacalah abjad dunia dengan baik dan benar. A sampai Z yang diajarkan musim berbadai coba jangan kamu gubah lagi dengan putus asa. Kamu memilih diam untuk sebab-sebab yang tak mau kamu sebut namanya. Ia telah menyusun sederat tanda pada kosa kata “abjad dunia” yang kemudia dipertautkan dengan “diajarkan musim”. Tanda-tanda itu dapat menjadi sinyal untuk melakukan prediksi pada kemungkinan wacana yang hendak bertransformasi.

Dengan demikian, suatu titik kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian tersebut bahwa Angga Aryo Wiwaha menempatkan puisi untuk bebas becerita dengan susunan tanda yang mengandung pengetahuan untuk menjadi wacana. Adapun wilayah bahasa perumpamaan berposisi sebagai keunikan, dan keindahan (estetik) untuk menarik perhatian pembaca.

XIV. Posisi Simbol yang Imajinatif Menurut Wiwit Mardianto

Tidak banyak penyair yang memilih untuk menggunakan simbol sebagai cara ungkap di dalam puisi, selain beresiko tidak terbacanya pengetahuan yang hendak disampaikan, juga kehadirannya sering hanya dipandang sebagai keindahan bahasa. Dalam sistem komunikasi, ia dapat menjadi entropi[4] karena berusaha lepas dari konvensi-konvensi. Namun, apabila itu terbangun dengan pola yang khas, maka akan menjadi redundasi[5] dengan adanya ikatan-ikatan pada pemilihan bahasa, serta ikatan konteks yang menjadi wilayah ungkapnya.

Wiwit Mardianto memilih untuk ide dan perasaan untuk membentuk kreativitas bahasa dalam merefleksikan “bentuk”[6] dengan menggabungkan entropi dan redundasi. Yang terjadi adalah kekuatan simbol sebagai kesatuan makna, yang berusaha untuk masuk pada tataran filosofis. Di sinilah, analisis puisi harus menghubungkan antara yang tampak dan tidak tampak: sebagai pengetahuan lain dalam bentuk perbandingan. Lihat sajak berikut ini: //Daun tak perlu menjadi perahu/ Untuk menyeberangi kata-kata/ Mungkin, harus menjadi sayap kupu-kupu/ Agar kau bisa bercumbu/ Dengan doa yang tertebar di masa lalu//. Di dalam sajak Wiwit Mardianto berjudul “Daun” tersebut, ada “bentuk”, sekaligus simbol dari kata daun. Daun yang dalam pandangan secara umum melekat pada pohon, yang dalam waktu tertentu harus gugur, namun di sini daun menjadi simbol dari sisi lain kehidupan. Fenomena seperti ini telah masuk pada ruang filosofis, seperti halnya padangan sufistik untuk menuju tingkatan spiritualitas dengan jalan menjadi sayap kupu-kupu untuk masuk pada doa: yakni doa yang telah dilantunkan berkali-kali dari hari-hari kemarin hingga sekarang, pun juga pada sebuah doa yang sekarang dipanjatkan untuk dipetik kelak, dengan manusia kemudian menyerupai kupu-kupu. Maka dari itu, sebuah perjalanan tidak mesti dilakukan dengan panjang, tetapi dapat juga dilakukan dengan terbang karena adanya doa. Dalam kisah-kisah, yang sering terdengar pada ceramah, bahwa doa yang tulus dapat menjadikan seseorang melewati kehidupan menuju pada capaian tertinggi. Di sinilah, ide dan perasaan membentuk simbol (ketika ditulis di dalam puisi melalui bahasa) untuk menuju pada efek.

Dalam ini, Wiwit Mardianto secara konsep kebahasaan telah memiliki kematangan untuk mengungkapkan sajak yang pendek, yang mampu menyampaikan citra dan efek. Ia memosisikan simbol tidak sebatas sebagai keindahan bahasa, tatapi wilayah ungkap dari pengetahuan yang ingin disampaikan. Dengan simbol diposisikan sebagai wilayah ungkap, makna bahasa membentuk imajinasi dengan seolah-olah ada suasana yang menyatu dengan makna, yang hendak ia hadirkan. Hubungan antara kata ‘daun’ dan ‘kupu-kupu’, kata ‘perahu’ dan ‘menyebrangi’ membentuk imajinasi bagi pembaca, namun itu masih dalam kesatuan makna yang secara intertekstual dapat dirujuk pada konsep religiusitas.

Namun demikian, untuk menampilkan simbol yang berhubungan dengan ide dan perasaan tidak sepenuhnya berhasil. Seperti sajak “Ikhtiar IV” (yang masih milik Wiwit Mardianto) //Cinta hanya kata-kata tanpa maknaSeperti kabut yang menghiasi jendelaDan juga sisa keriangan senja//. Dalam ini, bagaimana sebuah perasaan yang terlalu perasaan gagal membentuk pengetahuan untuk mengungkap sisi lain dari cinta dengan simbol yang cocok. Ketika memahami cinta sebagai kata yang tidak bermakna, justru terjadi paradoks dengan adanya keriangan senja—yang berarti menuansakan senang. Ada penghadiran imajinasi yang tidak menyatu dengan perasan dan tidak membentuk pendalaman wacana untuk dikomunikasikan. Untuk itu, puisi perlu untuk membangun konseps yang tepat sebagai satu kesatuan tanda yang saling berhubungan.

XV. Pemunculan Simbol Sufi oleh Oktaf Giar Purnomo

Simbol-simbol di dalam puisi terbentuk berdasarkan ‘situasi batin’ yang dikaitkan dengan gejolak perasaan sebagai daya keindahan. Dalam itu, internalisasi diri menjadi sangat menonjol, meskipun dibungkus dengan metonimi dan metafora sehingga menampilkan ketidaklangsungan ekspresi. Kesan itu muncul dari pemanfaatan bahasa sebagai wilayah visual untuk menyatakan dunia dalam dengan gerakan bayangan. Dan, memang, penyair banyak memunculkan imajinasinya dari wilayah batin sebagai ide. Dalam beberapa sajak, Oktaf Giar Purnomo banyak mengeksplorasi simbol-simbol sufi (simbol puisi sufi tidak melulu cinta, anggur, Kekasih, mabuk, dan peleburan, tetapi pada simbol lain yang masih dalam visi misi kaum sufi memandang kehidupan) untuk menjelaskan dimensi kewaktuan, dan refleksivitas perempuan.

Ada beberapa sajak yang mengungkapkan tentang perempuan seperti pada judul “Perempuanku”, “Perempuan Layu”, “Suatu Hari yang Indah”, “Misteri Perempuan”, “Cerita Hujan”, “Tulang Iga”, dan “Sembilan Purnama”. Pada sajak-sajak tersebut, Oktaf Giar Purnomo mencoba mentransformasikan simbol sufi untuk memahami perempuan berdasarkan situasi batinnya. Dalam sajak “Tulang Iga”, dia menuliskan bahwa //Wahai yang bersemayam di dalam rasa dan diriku/ Kau lebih dekat dari semua yang berdekatan/ Kau adalah diriku/ Jika aku tak memandangmu/. Di dalam kutipan itu, ada pernyataan Kau adalah diriku yang biasa digunakan dalam simbol sufi pada “peleburan.” Yang di satu sisi, itu masih terkait juga pada hakikat penciptaan manusia, di mana Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam: berarti pasangan laki-laki dan perempuan pada mulanya adalah satu. Pandangan ini terkait dengan dimensi kewaktuan yang telah ditransformasikan berdasarkan suasan batin. Seperti yang ada di dalam sajak “Samudra” yang bercerita mengenai waktu yang sunyi sebagai rahasia. //Jagad menyaksikan hening/ Menjadi ajaran rahasia/ Untuk menghadap raja sejati/ Di alam kekosongan//. Tidak ada kosa kata mengenai waktu di dalamnya, tetapi ada gambaran peristiwa yang apat dibaca sebagai usaha untuk lepas dari kewaktuan dalam jagad yang menyaksikan hening. Hal inilah yang menjadi dorongan kuat sebagai tenaga.

Oktaf Giar Purnomo tidak hanya membicarakan kewaktuan, tetapi beberapa hal lain yang diubah menjadi bentuk keindahan yang mmenyatu dengan kosmos. Dalam sajak “Sembilan Purnama” Oktaf Giar Purnomo menuliskan //Daun yang paginya diselimuti embun harapan/ Menumbuhkan wangi bunga kasturi/ Sementara kabut menjadi metafora di antara angin/ Seperti lembaran sutra mebingkai telaga/ Sunyi saat kau menjelma makhluk kecil/ di sepertiga malam//. Di dalam sajak ini, ia berusaha untuk memunculkan keindahan pada sembilan purnama bagi seorang ibu yang mengandung. Ada wilayah partikular yang ingin diwacanakan mengenai orang hamil yang berada pada posisi mulia sehingga harus melukiskan keindahan. Dan pusat dari keindahan itu ada penciptaan pada janin sehingga menjadi harapan kecil untuk tumbuhnya manusia. Munculnya manusia melalui peniupan ruh ke dalam tubuh merupakan perwujudan yang sangat indah. Hanya saja, dalam keindahan itu, perlu untuk masuk pada kosmos sehingga memahami gejala dari suara-suara lain yang lebih lembut dalam dimensi yang berbeda. Alam kandungan berada pada sisi yang berbeda dengan wujud dunia ini sehingga perlukisan harus dalam bentuk simbolik seperti pada Sunyi saat kau menjelma makhluk kecil.

Begitulah memahami Oktaf Giar Purnomo harus memahami dimensi dan kerangka simboliknya karena dalam beberapa bagian acapkali ia sangat liar. Semisal saja pada sajak “Perkampungan Sunyi”: //Di antara air terjun menutup senja/ Melihat pelangi di tengah danau/ Aku datang dari air mata/ Melengkapi kabar dari angin//. Di dalam kutipan itu, keliaran dari Oktaf Giar Purnomo tampak lompatan suasana sekaligus simbol, namun hal itu masih dalam satu keutuhan karena ada ruang “air” yang menghubungkan maksud.

Begitulah kiranya perjalanan musim semi ini harus saya akhiri. Uraian sepanjang ini sebenarnya masih sangat pendek karena sebagai catatan hasil pengamatan dengan perasaan di sebuah kebun yang sangat luas. Apa yang saya temukan di dalam buku Pilar Penyair, tidak menutup kemungkinan Anda akan menemukan yang lain karena di dalam kebun akan selalu tumbuh hal-hal yang baru. Ada banyak cara untuk membaca puisi—dengan berbagai sistem teori—sehingga memetik makna yang tersembunyi di balik kata-kata. Saya berusaha untuk menemukan fragmen peristiwa, yang mungkin harus mengacu pada kesungguhan dari perasaan penyair yang menjelma di dalam sajaknya karena adanya sudut pandang pada aspek spiritualitas, sedangkan bahasa sebagai pengungkapnya. Bagaimana tidak, persoalan duniawi yang tampaknya biasa— justru dalam pandangan para penyair di dalam buku ini—merupakan liku perasaan tersendiri (entah itu derita atau cinta, ataupun cara untuk mengalihkan diri), kemudian menjadi fragmen karena ada perbandingan. Model puisi di dalam buku Pilar Penyair telah berhasil dalam melakukan eksplorasi, juga pada pengungkapan peristiwa dramatik, yang semua itu disusun dengan bahasa terindah menurut mereka, dan sampai pada spiritualitas mereka sebagai penyair.

Sebagai akhir catatan, saya sampaikan bahwa urutan pembacaan itu bukanlah urutan yang terbagus, melainkan hanya sebagai permudah saya dalam menulis dan membuat pola analisis. Dan pernyataan ini bukanlah kesimpulan karena Anda dapat menemukan sisi yang lain, dan itu akan melengkapi pembacaan ini, yang belum saya temukan.[]

Judul : Pilar Penyair

Penulis : (Antologi Puisi)

Penerbit : Obsesi Press

Tahun Terbit : Maret, 2011

Tebal : xiv + 260 halaman


[1] Suminto A. Sayuti, Berkenalan Dengan Puisi (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hal. 24.

[2] Lihat istilah Jacques Lacan mengenai tahapan seseorang dalam mengenai dunia, kemudian secara psikologis melalukan tiruan berdasarkan realitas yang ada di sekitarnya, seperti cermin.

[3] Istilah ini ada di dalam Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (Jakarta: Lentera Dipantara, 2003). Di dalam buku ini, disebutkan mengenai realisme kreatif yang berusah untuk membangun wacana bagi kutuhan jiwa sastrawan yang benar-benar menguasai realitas dengan sasaran realitas itu sendiri.

[4] Dalam semiotika komunikasi, entropi menjadi penyebab komunikasi gagal diterima dengan baik karena keluar dari konvensi. Dalam puisi, pemilihan simbol-simbol yang baru oleh penyair (pengarang) dapat menciptakan multiinterpretable, sejauh penyair bisa memosisikannya pada pola-pola penandaan. Selebihnya, istilah ini dapat dirujuk pada Jhon Fiske, Cultural and Comunication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hal 20-23.

[5] Redundasi tersusun atas konvensi-konvensi sebuah pesan untuk bisa ditransformasikan menjadi makna. Adanya kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama merupakan cara manusia untuk menyampaikan maksud agar dipahami bersama.

[6] Istilah ini saya ambil dari kajian seni seperti yang serign dipaparkan oleh Prof. Dr. Nanang Rizali di perkuliahan Kajian Budaya, UNS Solo. Di dalam kajian seni ada bentuk (lembaga), simbol dan efek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s