Meng-adil-i Sejarah 1965

Page 1 : 6

Ketika pertama kali menulis tulisan ini, saya teringat sebuah pernyataan yang disampaikan seorang dosen dalam sebuah diskusi di kelas. Dosen tersebut mengatakan bahwa “sejarah itu adalah politik masa lalu, dan politik adalah sejarah yang sedang dibuat”. Pernyataan itu memang ada ada benarnya juga ketika kita menggambarkan sejarah Indonesia. Dalam konteks ini, ungkapan tersebut pantas dialamatkan pada sejarah Indonesia.

Sejarah Indonesia adalah sejarah ketidakpastian, meski tidak semua cerita sejarah. Apakah sejarah yang selama ini diketahui itu menjelaskan fakta yang sebenarnya? Atau malah sebaliknya? Itulah yang menimbulkan ketidakpastian dalam menerima fakta sejarah. Apa lagi jika sejarah itu ternyata menyebarkan kebohongan, jelas tidak bisa diterima.

 Sejarah Indonesia Dewasa Ini

Selama ini sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah disebut dengan sejarah persatuan dan kesatuan bangsa. Maksudnya adalah bahwa pelajaran sejarah yang diajarkan harus bisa menanamkan nilai-nilai perjuangan bangsa.[1] Maka tidak heran jika banyak materi pelajaran sejarah yang bertemakan peperangan atau kisah-kisah para pahlawan. Sebagai contoh perang melawan penjajah. Ironisnya pihak kita selalu saja kalah. Kekalahan tersebut disebabkan karena mudahnya terjadi politik pecah belah (devide et impera). Para pejuang kita begitu mudah untu diadudomba. Maka agar nanti kita tidak kalah lagi dan tidak mudah dipecah-belah, wajib ditanamkan rasa “persatuan dan kesatuan”.

Sejarah yang diajarkan juga sering mengalami distorsi pengakuan antara pemerintah dengan daerah. Contohnya, kita mengenal Arung Palakka selama ini sebagai pemberontak karena pernah bersekongkol dengan Belanda ketika melawan Kesultanan Makassar. Padahal di Bone sendiri (negeri asalnya) Arung Palakka dianggap sebagai pahlawan karena telah melepaskan Bone dari kekuasaan Makasar, hingga didirikan patung dirinya sebagai pernghormatan terhadap jasanya. Hal ini jelas bahwa sejarah yang ditulis oleh pemerintah tak sepenuhnya diakui oleh rakyat di daerah.

Sejarah juga menjadi alat penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya. Soeharto, seorang anak petani kecil kemudian menjadi pahlawan karena berhasil menyelamatkan ibukota Yogyakarta pada Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Soeharto menggambarkan dirinya sendiri sebagai aktor utama merebut kembali Yogyakarta. Sehingga kemudian hari ia dirikan monumen-monumen dan diorama-diorama yang menggambarkan kisah heroiknya. Ia mengabaikan peran para tokoh lainnya dalam peristiwa tersebut. Peristiwa 1 Maret 1949 sendiri setelah ditelusuri fakta sejarahnya kemudian ternyata menempatkan Sultan Hamengkubuwono IX sebagai aktor utama dalam penyerangan terhadap Belanda. Beliau yang memberikan perintah langsung kepada Jenderal Sudirman, setelah itu Sudirman menginstruksikan kepada Soeharto untuk menyerang Belanda.

Selain film “Janur Kuning”, kisah kepahlawanan Soeharto selanjutnya digambarkan melalui film tentang kisah pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dalam film tersebut digambarkan bahwa Soeharto adalah aktor utama yang menumpas gerakan yang menurutnya didalangi oleh PKI. Film “sadis” berdurasi 4 jam tersebut kemudian menjadi tontonan wajib rakyat Indonesia dari anak-anak hingga dewasa yang ditayangkan setiap tanggal 30 September. Hal ini tak ubahnya strategi rezim Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya hingga berlangsung selama tiga dekade.

Praktis, pasca tumbangnya rezim Soeharto pada 1998, mulai muncul usulan untuk dilakukannya pelurusan sejarah Indonesia—usulan yang jangan harap bisa terwujud ketika Soeharto masih berkuasa. Pelurusan ataupun penulisan kembali sejarah Indonesia tersebut tidak terlepas dari sifat sejarah yang selalu dinamis. Ada kalanya sejarah itu mengalami revisi ketika ditemukan sumber-sumber baru yang membenarkan peristiwa tersebut. Menurut sejarawan asal Inggris, E.H. Carr[2], sejarah merupakan dialektika antara masa lampau dengan masa sekarang, dialog yang tidak pernah berkesudahan antara sejarawan dengan sumber yang dimilikinya. Jadi tidak ada tulisan atau buku sejarah yang final. Menurut pandangan Asvi Warman Adam, pelurusan sejarah berarti menjadikan sejarah yang dahulu “seragam” menjadi “beragam”. Kalau dahulu hanya ada satu versi mengenai G30S, sekarang sudah terungkap berbagai versi lainnya.

Artikel Terkait :

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Peristiwa G30S dan Versinya

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Indonesia Setelah 1965: Lahirnya “Indonesia Baru”

Meng-adil-i Sejarah 1965 – 2. Neokolonialisme “Bangsa Sendiri”

Meng-adil-i Sejarah 1965 – 3. Hilangnya Jiwa-jiwa Revolusioner

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Penutup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s