Meng-adil-i Sejarah 1965 – Indonesia Setelah 1965: Lahirnya “Indonesia Baru”

Page 3 : 6

Dalam tulisan ini paradigma “Indonesia baru” yang saya ajukan telah mengalami peyorasi. Tragedi 1965 adalah tonggak sejarah lahirnya Indonesia baru (New Order). Rangkaian peristiwa yang mengiringinya berakhir pada sebuah peristiwa yaitu bergantinya rezim yang lama ke rezim yang baru. Sukarno harus menyerahkan tahta Presiden kepada Menteri/Jenderal Angkatan Darat-nya, Soeharto. Rezim sipil revolusioner pun berganti menjadi rezim militer.

Layaknya seorang bayi yang baru lahir, Indonesia adalah bayi yang harusnya fitrah (suci) saat dilahirkan kala itu. Namun fitrah itu ternodai oleh dosa-dosanya ketika dalam masa akhir-akhir kandungannya. Tragedi pembunuhan para jenderal kemudian diikuti oleh pembunuhan massal yang dialamatkan kepada bangsa sendiri. Dalam hal kepribadian dan karakter bangsa, rezim baru itu mulai meninggalkan karakter yang telah melekat sejak negara ini dideklarasikan kemerdekaanya. Di antaranya adalah keberpihakan pada sistem kapitalisme, neokolonialisme bangsa sendiri, dan hilangnya jiwa-jiwa revolusioner.

1. Dari Anti menjadi Pro-Kapitalisme

Sudah menjadi berita lama bahwa Indonesia adalah sebuah negera kepulauan yang banyak menggoda para petualang atau pencari kekayaan datang mengunjunginya. Bagi mereka Indonesia adalah surga bagi para penjajah. Kekayaan alamnya adalah anugerah luar biasa yang tak tertandingi nilainya. Vlekke menyebutkan bahwa kekayaan alam Indonesia telah menjadi sebuah legenda di Eropa, mereka menyebutnya sebagai sumber kekayaan terbesar Timur.[9] Negara-negara Eropa pun akhirnya berbondong-bondong menuju Nusantara. Hampir semua negara penjajah dengan reputasi tinggi pernah datang dan menguasai Indonesia, sebut saja : Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang. Hingga pada akhirnya Belanda-lah negara yang paling lama berkuasa di negeri ini.

Setelah merdeka tahun 1945 ternyata tak membuat bangsa lain berhenti untuk ingin kembali menjajahnya. Belanda adalah negara yang paling ngotot ingin menguasai kembali Indonesia. Namun melalui revolusi fisik, kemerdekaan akhirnya bisa dipertahankan meski dengan pengorbanan yang tidak sedikit.

Namun apakah itu menandakan Indonesia sudah aman dari ancaman pihak asing? Ternyata tidak. Situasi dunia yang kala itu dalam suasana Perang Dingin ikut menyeret Indonesia untuk ikut dilibatkan dalam persaingan dua ideologi, AS dengan sistem kapitalismenya dan Uni Sovyet dengan komunisme. Presiden Sukarno yang seorang anti kolonialisme cenderung menolak ideologi yang pertama, dan cenderung kekiri-kirian. Sistem ekonomi Indonesia juga cenderung mengusung ekonomi sosialis dan termaktub dalam UUD 1945. Hal seperti inilah yang ditakutkan oleh pihak barat. Mereka pun mencoba bermanuver dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengancam kekuasaan Sukarno.

Menurut Revrisond Baswir bahwa ada tindakan subversif yang coba dilakukan oleh pihak kolonial (Belanda, AS, dan sekutunya) terhadap pemerintahan Sukarno.[10] Pertama, terjadinya agresi militer I dan II pada 1947 dan 1948 dimana usaha ini dilakukan untuk mencegah berdirinya Negara Republik Indonesia. Kedua, dipaksanya bangsa Indonesia untuk memenuhi tiga syarat ekonomi guna memperoleh pengakuan kedaulatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Syarat-syarat ekonomi tersebut adalah: 1) bersedia menerima warisan utang Hindia Belanda sebesar 4,3 juta gulden; 2) bersedia mematuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Atau dengan kata lain Indonesia harus bersedia masuk menjadi anggota IMF; dan 3) bersedia mempertahankan perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Ketiga, dilakukannya tindakan adu domba menyusul tindakan Sukarno membatalkan perjanjian KMB pada 1956. Tindakan tersebut terungkap pada peristiwa PRRI/Permesta.

Keempat, diselundupkannya sejumlah sarjana dan mahasiswa ekonomi Indonesia ke AS untuk mempelajari ilmu ekonomi bercorak liberal-kapitalis sejak 1957. Para ekonom ini dipersiapkan untuk mengambil alih kendali ekonomi pasca diturunkannya Sukarno pada 1966. David Ransom, dalam artikelnya “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia” (2006), menyinggung peran Soemitro Djojohadikusumo dalam usaha pengiriman para mahasiswa ekonomi UI ke AS. Kala itu peran Soemitro cukup vital karena menjabat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). Dalam tulisan Ransom tersebut, Soemitro disebutkan telah lama menjalin hubungan hubungan yang baik dengan AS selama pengasingan- mengirimkan mahasiswa-mahasiswa UI untuk belajar ilmu ekonomi di universitas-universitas terkemuka di AS, seperti Cornell, MIT, Berkeley, Harvard, yang mana universitas-universitas tersebut telah ditugaskan untuk mencetak para calon-calon teknokrat ekonomi nantinya secara tidak langsung bekerja dibawah kontrol Amerika.[11]Oleh David Ransom, para orang-orang yang akan menjadi tangan kanan Soeharto ini ia sebut dengan “mafia Berkeley”.

Kelima, dilakukannya sandiwara politik untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno pada 30 September 1965, yaitu pasca terbitnya UU No. 16/1965 pada Agustus 1965, yang menolak segala bentuk keterlibatan asing di Indonesia. Keenam, dipaksanya Sukarno untuk menandatangani empat UU sebelum secara resmi dilengserkan dari kekuasaannya. UU tersebut adalah: 1) UU No. 7/1966 tentang penyelesaian masalah utang-piutang antara Pemerintah Indonesia dan Belanda; 2) UU No. 8/1966 tentang pendaftaran Indonesia sebagai anggota Asian Development Bank (ADB); 3) UU No. 9/1966 tentang pendaftaran kembali Indonesia sebagai anggota IMF dan Bank Dunia; dan 4) UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing. Keempat UU sebagai tanda dimulainya liberalisasi ekonomi di Indonesia yang dijalankan Presiden Soeharto.

Praktis mulai saat ini Indonesia memasuki era liberalisasi ekonomi. Para “mafia Berkeley” yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari di tugaskan mengurusi bidang ekonomi. Contohnya, Soemitro Djojohadikusumo (Ph.d di Rotterdam), Widjojo Nitisastro (Ph.d di Berkeley University), M. Sadli (M.Sc di MIT), Emil Salim (Ph.d Berkeley), Ali Wardhana (Ph.d di Berkeley), hampir selalu mengisi jabatan penting dalam tim ekonomi di Kabinet Pembangunan Soeharto.

Dasar-dasar neoliberalisme yang diletakkan Soeharto lewat tangan-tangan teknokrat ekonominya ini, bisa disebutkan dalam dua hal. Pertama, mendatangkan hutang luar negeri (HLN). Lewat HLN ini, Indonesia digantungkan nasibnya kepada negara-negara maju, tetapi kemudian ini menjadi blunder karena memanjakan pejabat dan elit untuk mencari alternatif-alternatif kreatif, dan menyerahkan nasib bangsa ke negara-negara maju. Yang lebih parah lagi HLN menjadi keniscayaan hingga pada rezim berkuasa di era reformasi yang kemudian mendatangkan IMF, dan jumlah HLN Indonesia jauh melampaui kemampuan Indonesia untuk membayarnya. Kedua, mempercayai investasi asing sebagai basis pembangunan dengan cara membuka luas modal asing.[12]

Untuk menggambarkan bagaimana penguasaan asing dalam ekonomi Indonesia sangat besar, dan menjadi skema negara-negara maju, dapat dilihat konsesi-konsesi setelah Indonesia menyepakati HLN di masa awal berdirinya rezim Soeharto dan kondisi sekarang ini. Di tahun 1967, Timelife Corporation mensponsori sebuah konferensi di Jenewa, Swiss (Konferensi Jenewa) yang merencanakan pengambil-alihan bisnis di Indonesia. Konferensi ini dihadiri oleh para pebisnis besar dari perusahaan multinasional (salah satunya David Rockefeller). Dalam konferensi selama tiga hari itu disepakati “penjualan” Indonesia dengan cadangan sumber daya alamnya yang besar kepada perusahaan-perusahaan multinasional. Para korporasi Barat diwakili oleh perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, dan US Steel. Di seberang meja adalah para teknokrat ekonomi Soeharto, yang merupakan bagian dari “mafia Berkeley” tadi. Mereka datang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para pebisnis. Menyodorkan butir-butir yang dijual, menawarkan buruh murah, cadangan besar dari sumber daya alam, konsumen pasar yang besar. Pada akhirnya para korporasi raksasa tersebut mendapatkan bagian-bagian mereka di Indonesia. Dalam tulisan Ransom disebutkan:[13]

a. Freeport Sulphur membuka pertambangan di Irian Barat, yang hingga sekarang masih bertahan;

b. International Nickel telah berhasil memperolah tambang nikel di Sulawesi;

c. Alcoa akan mengadakan perundingan untuk mendapatkan sebagian besar tambang bauksit di Indonesia;

d. Weyerhaeuser, International Paper, Boise Cascade dan perusahaan-perusahaan kayu dari Jepang, Korea dan Filipina menebangi kayu di hutan-hutan rimba di Sumatra, Irian Barat, dan Kalimantan;

e. Konsorsium dari pengusaha-pengusaha tambang raksasa dari Amerika Serikat dan Eropa, dengan dipimpin oleh US-Steel membuka pertambangan nikel di Irian Barat. Dua buah lagi lainnya yaitu US-British dan US-Australian, akan membuka pertambangan timah. Sedangkan US-Selandia Baru berusaha untuk mendapatkan batubara; dan

f. Jepang akan menguras udang, ikan tuna, dan mutiara dari lautan kepulauan Indonesia.

Hadiah yang terbesar yang sesungguhnya adalah minyak. Pada tahun 1969 terdapat 23 buah perusahaan minyak yang telah mengajukan permintaan untuk mendapatkan hasil eksplorasi, eksploitasi, dan menjual minyak yang terdapat di dasar Laut Jawa dan di lain-lain perairan di pantai-pantai Indonesia. Dari jumlah tersebut, 19 di antaranya berasal dari Amerika. Natomas dan Atlantic-Ricfield mendapatkan konsesi minyak seluas 21.000 mil persegi (kira-kira 5.382.400 hektar), di sebelah timur pulau Jawa.

Jadi dengan kata lain negara ini sesungguhnya telah “dijual” sejak tahun 1967 silam. Dan mulai saat itu Indonesia mulai menanggalkan identitas dan karakternya sebagai negara anti-kapitalisme.

Artikel Terkait :

Meng-adil-i Sejarah 1965 – 2. Neokolonialisme “Bangsa Sendiri”

Meng-adil-i Sejarah 1965 – 3. Hilangnya Jiwa-jiwa Revolusioner

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Penutup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s