Meng-adil-i Sejarah 1965 – 3. Hilangnya Jiwa-jiwa Revolusioner

Page 5 of 6

3. Hilangnya Jiwa-jiwa Revolusioner

“Ganyang Malaysia!”, “Inggris kita linggis!”, dan “Amerika kita setrika!”, mungkin kita pernah mendengar seruan semacam itu. Kata-kata itu sering diucapkan oleh Presiden Sukarno dalam orasinya. Sukarno memang dikenal sebagai orator ulung, yang mampu membangkitkan semangat rakyat Indonesia. Tak ayal dia pun begitu dihormati rakyatnya.

Namun kata-kata Sukarno tadi sudah tak pernah terdengar lagi sekarang. Seruan semacam itu hanya menjadi slogan semata sekarang. Ketegasan yang digelorakan oleh Sukarno dulu terbukti mampu membangkitkan rasa nasionalisme seluruh rakyat. Kita pernah tahu ketika Sukarno mengelorakan semangat “menggganyang Malaysia” karena negara baru itu dianggap “gulma” yang mengancam Indonesia karena ditunggangi oleh antek-antek Nekolim (neokolonialisme dan imperialisme). Namun Indonesia yang tegas dulu kini berubah menjadi macan melempem. Jiwa-jiwa revolusioner yang dahulu dimiliki rakyat Indoensia seolah menghilang karena buaian konsumerisme yang melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Rasa persatuan dan kesatuan menjadi terkotak-kotakan. Rasa kebangsaan seolah-olah memang “semu”, membenarkan pendapat Ben Anderson dalam buku Imagined Communities. Masih ingat ketika kasus sengketa Pulau Ambalat, yang dengan kekayaan alam yang begitu besar, dengan Malaysia yang pada akhirnya pulau tersebut dimiliki Malaysia setelah dimenangkan oleh pengadilan Mahkamah Internasional PBB. Selanjutnya klaim Malaysia terhadap budaya asli Indonesia. Belum lagi kasus penyiksaan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita oleh para majikan. Reaksi pemerintah dalam berbagai kasus cenderung soft. Tak ada tindakan tegas yang diarahkan terhadap mereka. Ini menunjukkan bahwa pemerintah telah kehilangan jiwa revolusionernya, jiwa keras kepalanya (koepig), yang menjadi watak asli bangsa Indonesia. Penjajahan selama ratusan tahun terbukti telah membentuk watak Indonesia yang tegas terhadap bentuk ancaman apapun, karakter yang berani melawan ketidakberesan.

Karut-marut persoalan bangsa yang menghampiri bangsa ini seolah telah menjadi fenomena yang mengiringi setiap jengkal waktu perjalanan bangsa ini. Degradasi moral pemimpin negeri ini turut mewarnai hari demi hari berita-berita di televisi dan media lainnya. Mereka turut andil berperan manghancurkan martabat bangsa ini. Di mulai dari kasus-kasus korupsi hingga tindakan asusila yang tak bermoral. Belum lagi ditambah kasus para selebritis kita dari kasus narkoba, perselingkuhan, perceraian, dan sebagainya. Dalam tataran masyarakat bawah, dalam masyarakat miskin, merebaknya kriminalitas, pengangguran, pengemis, trafficking, dan sebagainya.

Apa makna di balik sejumlah kasus buram tersebut? Bangsa ini baik secara kolektif maupun individual, menunjukkan indikasi mengalami pelemahan karakter sebagai bangsa yang bermartabat, selain karena lemahnya sistem. Bangsa ini pun telah kehilangan rasa malu dan marwah kehormatan, padahal selama ini mengaku memiliki tradisi besar (the great tradition) sebagai bangsa Timur yang dibangga-banggakan. Bangsa ini secara khusus tengah kehilangan martabat moral dan spiritual atau akhlak sebagai bangsa yang religius atau beragama sebagaimana melekat dalam kepribadian bangsa.

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Penutup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s