Meng-adil-i Sejarah 1965 – 2. Neokolonialisme “Bangsa Sendiri”

 

Page 4 : 6

2. Neokolonialisme Bangsa Sendiri

Rezim Orde Baru adalah salah satu rezim terkejam di dunia. Tak hanya di dalam negeri, “gelar” tersebut juga banyak diberikan oleh media-media luar negeri. Selama 32 tahun kekuasaannya, terlepas dari jasa-jasanya di bidang pembangunan, Soeharto juga telah membangun sebuah rezim kolonialisme baru (neokolonialisme) di negaranya sendiri.

Melalui sistem dwifungsi ABRI, Soeharto menggunakan kekuatan militer untuk memperkuat kekuasaannya. ABRI tak hanya bertugas sebagai pasukan penjaga keamanan negara, namun oleh Soeharto ABRI disulap menjadi “tukang gebug” bagi mereka-mereka menentang/berseberangan dengan Presiden. Tak terhitung jumlah orang yang telah menjadi korban tindakan represif Soeharto ketika berkuasa, namun jumlahnya diperkirakan mencapai jutaan manusia. Belum lagi ditambah mereka-mereka yang hak hidupnya dilanggar akibat stigma-stigma buruk—seperti eks-komunis ataupun eks-tapol—korban-korban yang diculik baik mahasiswa, sipil, maupun aktivis yang sampai saat ini kabar hidup atau matinya masih simpang siur, seperti Widji Tukul.

Jumlah korban mati selama Soeharto berkuasa berkisar 2 juta jiwa. Tentu hal ini masih jauh lebih sedikit dari hitungan yang sebenarnya. Kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim Soeharto antara lain Pembantaian Massal 1966, penahananpolitik Pulau Buru, peristiwa Malari 1974, peristiwa Tanjung Priuk, penembakan misterius (Petrus), peristiwa Lampung, DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dan Papua, pembantaian di Santa Cruz (Timor Timur), Peristiwa 27 Juli 1996, dan kerusuhan Mei 1998. Belum lagi ditambah kerugian akibat korupsi yang ia lakukan.

Melalui beragam media, seperti buku pelajaran sejarah, film, dsb., rezim secara tak langsung telah menyebarkan doktrin kekerasan yang menyebabkan terpengaruhnya mindset masyarakat. Dalam sebuah film dokumenter berjudul “Shadow Play”[14]terdapat sebuah scene yang menceritakan tentang penggalian korban-korban bekas pembantaian massal di sebuah daerah di Jawa Tengah. Dalam penggalian tersebut ditemukan rangkaian tulang belulang yang bernama Ibnu Santoro. Ibnu Santoro adalah salah satu korban pembantaian massal 1965/1966. Ibnu Santoro sendiri merupakan salah seorang Master dari sebuah universitas di Amerika Serikat. Pada masa itu Ibnu Santoro tergabung dalam sebuah organisasi persatuan sarjana Indonesia, yang berafiliasi dengan PKI. Jasadnya setelah dibantai di buang dalam sebuah lubang tak bernisan. Dalam sebuah penggalian di sebuah desa bernama Kaliwiro tersebut, tulang belulangnya berhasil ditemukan dan pihak keluarga berencana menguburkan kembali tulang belulang itu. Namun, nasib buruk menimpa keluarga tersebut karena masyarakat tempat jasad Ibnu Santoro akan dikubur menolaknya karena Ibnu Santoro dianggap sebagai mantan orang PKI. Kondisi seperti itu jelas menjadi sebuah ironi di sebuah negara yang dalam pembukaan konstitusinya dengan tegas menyatakan bahwa sebuah kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan segala bentuk penjajahan harus dihapuskan.

Hingga akhir hayatnya, Soeharto pun tak pernah menjalani pengadilan hukum. Harapan untuk mengadili Soeharto akhirnya terhambat alasan sakit yang dideritanya. Malah ironisnya, setelah kematiannya, ia dipromosikan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional oleh sebagian kalangan di DPR. Jelas, pertimbangan kemanusian yang dikumandangkan oleh Presiden SBY dan elit politik lainnya yang mendukung penghentian proses hukum Soeharto dan memaafkannya adalah pembuktian untuk membenarkan kejahatan kemanusiaan yang pernah ia lakukan terhadap bangsanya sendiri. Hal yang tak sepantasnya dilakukan oleh sebuah negara yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan moralits.

Artikel Terkait :

Meng-adil-i Sejarah 1965 – 3. Hilangnya Jiwa-jiwa Revolusioner

Meng-adil-i Sejarah 1965 – Penutup

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s