Konflik Agama sebagai Ekses Modernitas

Sejak masa Reformasi, konflik berlatar agama marak melanda Indonesia. Ini dapat dilihat pada kasus seperti konflik Maluku, penyerangan terhadap Ahmadiyah, dan yang terbaru pengeboman gereja di Solo. Agama dalam momen tersebut seakan jauh dari kearifan budaya karena kekerasan yang dilakukannya. Padahal awalnya agama dan budaya bekerjasama secara erat sehingga setiap praktek keagamaan pada dasarnya saling berinterpenetrasi dengan praktek kebudayaan. Tulisan ini akan menunjukkan hal tersebut dan setelahnya, dijelaskan betapa perubahan yang dibawa modernitas menceraikan keduanya dan timbulnya konflik berlatar agama tak lain merupakan ekses darinya.

 https://i0.wp.com/pcmedia.gamespy.com/pc/image/article/541/541929/rome-total-war-20040824044758216.jpg

Dunia sebagai Ruang Pertemuan

Agama adalah jawaban. Meski demikian, jawaban itu tak pernah komplet. Mengapa? Sebab untuk hadir ke hadapan manusia agar sejumput misteri-Nya dapat dikenali, Yang Transenden sebagai sumber dari agama mau tak mau harus “berhadapan” dengan dunia tempat manusia hidup. Padahal di dalam dunia, kemenjadian yang tak pernah stabil adalah kemestian—dan ini bertentangan dengan sifat tak terubah Yang Transenden. Dalam pada itu, intensi Yang Transenden untuk mencurahkan Cinta dan KasihNya kepada manusia tak pernah teralihbahasakan secara sempurna ke dalam dunia, sebab Dia harus meminjam sarana-sarana dunia yang kontingen.

Demikianlah maka setiap agama yang ada di dunia ini ter-rupakan ke dalam produk-produk budaya ciptaan manusia. Wahyu diturunkan ke dalam bahasa tertentu yang dipahami oleh komunitas linguistis tempat wahyu itu turun, teks suci ditulis oleh para perawi agung seturut dengan bahasa yang dipakai masyarakatnya, sedangkan tradisi dan ibadat—dalam beberapa hal—dipengaruhi oleh kondisi spasio-geografis tempat penghayat keagamaan tertentu bermukim. Maka jelaslah kini betapa agama yang hadir dalam segala manifestasinya tak lain merupakan sebuah amalgam antara transendensi dan imanensi.

Tetapi, bukan berarti bahwa agama semata produk kultural yang serba relatif. Ada “sesuatu” yang stabil di sana dan itulah yang membuat penganutnya secara yakin menyebutnya sebagai kebenaran tak tergoyahkan. Sisi kemapanan dari agama itu adalah idea tentang Yang Ilahi dan imperatif-imperatif moral dalam ajarannya. Itulah hakikat semua agama.

Selanjutnya, perspektif ilahiah dan etis itu digunakan sebagai kerangka oleh umat manusia untuk membangun peradaban dan kebudayaannya. Berger menyebutnya sebagai eksternalisasi. Masyarakat membangun dunia dan berinteraksi dengan sesamanya menjadi lebih baik dan harmonis dengan berbasiskan kepada inspirasi religius-imaniah. Atau, dalam kata-kata Berger, “religion is the enterprise by which sacred cosmos established. Put differently, religion is cosmization in sacred mode”.[1] Inilah modus utama dan satu-satunya bagi masyarakat mitis pra-modern dalam mengerjakan dunia mereka. Tak heran, pada masa itu agama begitu meresapi seluruh pandangan hidup mereka. Pada masa ini, “yang religius” dan “yang kultural” berpaut erat dalam tangkupan mesra.

Retaknya Agama dan Budaya

Kemudian tibalah fajar modernitas yang dimulai sejak masa Pencerahan dan Revolusi Industri melanda masyarakat secara global—termasuk di negeri ini. Dalam modernitas, cara pandang dunia disetir melalui prinsip-prinsip individuasi, distansi, progres, rasionalisasi, dan sekularisasi.[2] Akibatnya, “yang religius” dan “yang kultural” tercerai secara dramatis dan terjadilah sesuatu yang dahulu tak terbayangkan: praktik akultural (uncivilized) seperti kekerasan dilegitimasi menggunakan agama seperti yang sekarang ini marak di Indonesia.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ini karena agama diinstrumentalkan sedemikian rupa sehingga bisa dipakai untuk memenuhi tujuan tertentu yang tak berhubungan dengan visi eskatologis. Seturut dengan etos modern yang mengutamakan efektivitas, agama menjadi semakin pragmatis atau, lebih tepatnya, antroposentris. Ini seakan menguatkan konstatasi Karen Armstrong, “despite its otherworldliness, religion is highly pragmatic. We shall see that it is far more important for a particular idea of God to work than for it to be logically or scientifically sound.”[3] Dalam pembangunan kini masyarakat lebih mengandalkan pada hukum-hukum alam yang terukur dan tercandra, alih-alih percaya kepada agama sebagai sumber inspirasi kreatif bagi proses pembudayaan.

Pada titik ini, terjadi arus balik: apabila pada fase mitis pra-modern agama “dipinjam” inspirasi dan ajarannya untuk membangun dunia, maka pada fase modern ini pengusahaan dunia melalui praktik-praktik sosial dikerjakan terlebih dahulu untuk kemudian dicari legitimasinya dengan memakai agama. Hal ini terutama berlaku di negara non-sekuler, seperti Indonesia, di mana agama masih menjadi sumber legitimasi yang penting untuk setiap tindakan sosial dan politik yang bermakna. Dalam aras politik, misalnya, banyak calon pejabat yang menarik perhatian pemilih menjelang pemilu dengan mencitrakan dirinya sebagai agamis menggunakan simbol agama. Sedangkan dalam konteks kekerasan terhadap umat beragama, penyerangan dilakukan dengan mendalilkannya pada motif agama untuk menutupi hasrat sebenarnya yang profan, yaitu kebutuhan akan identitas yang hilang dalam arus modernitas.

Modernitas sebagai Akar Konflik

Dalam konteks Indonesia, ada hal yang patut diklarifikasi sehubungan dengan konflik antaragama yang terjadi. Pertanyaan pokok yang harus dijawab adalah pola hubungan konflik seperti apakah yang acapkali terjadi. Ini penting sebab pola konflik yang berbeda membutuhkan penjelasan yang berbeda pula. Di Indonesia, agaknya pola konflik mayoritas vis a vis minoritas-lah yang kerap terjadi. Ini tak aneh sebab dalam postur demografisnya, bangsa ini memang diliputi oleh beragam agama yang plural namun tak seimbang dalam proporsinya. Dalam kondisi seperti ini, berlaku hukum besi sosiologis: mayoritas cenderung menindas minoritas.

Jikalau demikian, sepintas lalu mungkin kita akan mengatakan bahwa konflik antaragama yang marak akhir-akhir ini memang “wajar’ adanya sebab negeri ini memang sangat majemuk secara religius. Namun, ini terlalu menyederhanakan perkara. Pluriformitas agama pada dirinya bukanlah sesuatu yang menimbulkan konflik. Lagipula fakta sejarah menunjukkan negeri ini memang sudah plural secara religius sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lampau. Ada faktor yang lebih dalam dan laten yang melatari konflik antaragama dan untuk ini kita perlu berpaling lagi kepada diskursus mengenai modernitas (dan modernisasi).

Problematika sosial yang terjadi di Indonesia seperti konflik antaragama dapat diletakkan dalam kerangka diskursus modernitas dan modernisasi. Kedua istilah yang muncul sejak tahun 1950-an ini merupakan pengembangan dari gagasan Max Weber tentang rasionalisasi masyarakat Barat yang mengakibatkan proses sekularisasi. Menurut Habermas, gagasan modernisasi tidak hanya terikat pada masyarakat Barat dan dalam modernisasi hubungan internal dengan proses rasionalisasi masyarakat Barat yang meniscayakan sekularisasi juga dicopot.[4] Artinya, suatu negara dapat melakukan modernisasi tanpa diiringi dengan sekularisasi dan memang demikianlah yang terjadi di Indonesia sejak negeri ini menggalakkan pembangunan besar-besaran sebagai proses modernisasi pada era Soeharto sampai sekarang ini.

Lalu, bagaimana problematik modernitas dapat menjelaskan konflik antarumat beragama? Jawabannya berputar alias tidak kausal. Ternyata, modernitas seiring dengan perjalanan waktu menampakkan kondisi-kondisi patologisnya. Patologi itu misalnya krisis ekonomi, kesenjangan status antarmanusia, pemanfaatan teknologi secara berbahaya, rusaknya moral dan etika, budaya konsumtif, alienasi atau anomie individu, dan munculnya situasi hampa makna (lack of meaning). Bagi beberapa orang, negativitas terbesar yang muncul pada masa modern adalah tercerabutnya identitas. Tidak banyak yang kuat menghadapi situasi semacam itu dan sebagai akibatnya, mereka menarik diri dari pusaran modernitas dengan kembali kepada struktur-struktur kolektif lama yang mampu memberikan identitas dan pemaknaan seperti agama. Agama mendapatkan karakterisasinya yang lain pada orang-orang semacam ini: apabila sebelumnya agama dijadikan murni sebagai wahana untuk mendekatkan diri pada Yang Transenden dan sebagai inspirasi etis-kultural, agama kini berkarakter lebih keras dan dipandang sebagai wahana aktualisasi diri satu-satunya.

Bagi mereka yang memilih jalan “pulang” pada agama ini, didapatkan fantasi identitas yang penuh dan memberikan pemaknaan yang menyamankan. Arti-diri didapatkan kembali setelah sebelumnya mereka menjadi monad atomik tanpa harga diri dalam sengkarut modernitas. Maka, dapat dipahami apabila agama berikut identitas yang didapatkan darinya adalah segalanya bagi mereka. Itulah benteng pertahanan terakhir yang mereka punyai. Oleh karenanya, siapa pun yang mengusik kepenuhan dirinya dalam identitas agama dipandang sebagai musuh berbahaya yang harus dibinasakan. Mereka menjadi sensitif dan paranoid berlebihan terhadap yang berbeda atau mereka yang mengancam kemurnian agama dan identitasnya. Dalam kasus kekerasan berlatar agama, kelompok inilah yang biasanya menjadi pelaku.

Kekerasan bahkan dapat dimaknai sebagai pengejawantahan dari kehendak untuk mempertahankan identitas. Artinya, kekerasan tersebut hanyalah ekses dari fetisisme akan identitas yang menggejala pada orang-orang yang “kalah” dalam kontestasi modernitas untuk kemudian lari pada agama. Hal ini dilakukan melalui mekanisme yang disebut subyeksi dan abyeksi. Subyeksi merupakan “a power assumed by the subject, an assumption that constitutes the instrument of that subject’s becoming.”[5] Asumsi kekuatan yang diperoleh melalui agama memberikan kepenuhan identitas bagi sang penyerang dengan memberikan batas-batas rigid dalam mana batas di luar yang ditentukan tersebut adalah liyan yang harus dieksklusi sebab mencemari identitasnya. Liyan tersebut bagi sang penyerang adalah umat beragama lain atau aliran yang berbeda dari dogma baku agamanya.

Eksklusi itulah yang disebut sebagai abyeksi, yaitu proses penyingkiran, penolakan, dan pembuangan terhadap mereka yang dirasa meruntuhkan kemapanan identitas simbolis—yang disebut abyek. Abyek dianggap menyimpang karena “…it neither gives up nor assumes a prohibition, a rule, or law; but turns them aside, misleads, corrupts; uses them, takes advantage of them, the better to deny them.”[6] Maka proses subyeksi tidak bisa tidak selalu disertai abyeksi. Semakin subyek mencintai identitas yang didapatkannya, semakin berhasratlah dirinya menyerang abyek sebab melaluinya, subyek melihat horor yang mengguncang tatanan, prinsip, dan identitasnya. “One thus understands why so many victims of the abject are its fascinated victims—if not its submissive and willing”[7].

Daftar Pustaka

Armstrong, Karen. 1993. A History of God. New York: Ballantine Books.

Berger, Peter L. 1973. The Social Reality of Religion. London: Penguin Books.

Butler, Judith. 1997. The Psychic Life of Power: Theories in Subjection. Stanford: Stanford University Press.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Kristeva, Julia. 1982. The Powers of Horror: An Essay on Abjection, terj. New York: Columbia University Press.


[1] Peter L. Berger, The Social Reality of Religion (London: Penguin Books, 1973), hal. 34.

[2] F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hal. 73.

[3] Karen Armstrong, A History of God (New York: Ballantine Books, 1993), hal. xx.

[4] Ignas Kleden, “Masyarakat Post-Secular: Tuntutan Aktualisasi Relasi Akal dan Iman” (2010), dalam Basis, No.9-10/2010, hal. 11.

[5] Judith Butler, The Psychic Life of Power: Theories in Subjection (Stanford: Stanford University Press, 1997), hal. 11.

[6] Julia Kristeva, The Powers of Horror: An Essay on Abjection (New York: Columbia University Press, 1982), hal. 15.

[7] Kristeva (1982:9).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s