Gaya Hidup Mahasiswa sebagai “Problem Solver”

https://i1.wp.com/pastormattblog.com/wp-content/uploads/2011/12/black-power.jpg

https://i0.wp.com/revolutionoflove.net/wp-content/uploads/2009/01/revolution-logo.jpg

Mahasiswa merupakan segmen khas dalam masyarakat yang daripadanya dapat disematkan banyak citraan dan predikat. Dalam untaian citra tersebut, beberapa di antaranya dikonstruksi atas dasar kisah-kisah historis yang menjadi milestone dalam babon historiografi republik ini melalui gerakan-gerakan sosial yang heroik. Mahasiswa pun mendapatkan titel profetik sebagai penarik gerbong sejarah ketika aliran sejarah sedang mengalami kejumudan.

Namun, citra mahasiswa juga terbentuk sebagai pantulan atas harapan kolektif masyarakat. Proyeksi harapan diletakkan kepada mahasiswa tatkala masyarakat tidak memperoleh fasilitas ruang publik yang fair untuk mendiskursuskan aspirasi dan kritik mereka kepada pemegang otoritas. Ada dua hipotesis yang dapat dirumuskan di sini. Pertama, ruang publik tidak diakses secara intensif oleh karena masyarakat masih bergumul dengan kebutuhan hidup primernya sehingga kegiatan diskursus dalam ruang publik menjadi terlalu mewah atau tidak menjadi prioritas mereka. Kedua, ruang publik itu sendiri boyak karena terlalu banyak virus-virus hegemonik dan distorsif yang disusupkan di dalamnya oleh penguasa politik dan ekonomi. Secara instingtual masyarakat mungkin mengetahuinya, namun mereka tidak mempunyai kapasitas untuk mengartikulasikan apa yang sesungguhnya terjadi dan telah dirampas dari mereka. Menghadapi kenyataan ini, mahasiswa kemudian dilirik sebagai penyelamat keadaban publik. Beban sebagai penyuara nurani demos (rakyat) kemudian diestafetkan ke pundak mahasiswa. Alasan paling asertif yang melatarinya ialah pertimbangan bahwa mahasiswa merupakan kelas menengah terdidik yang sedang diluapi oleh gairah muda idealisme.

Hal yang kemudian terjadi adalah perampatan besar-besaran. Mahasiswa dipandang sebagai aktor dengan keutamaan (virtue) tinggi sedemikian sehingga setiap dari mereka yang mengaku sebagai mahasiswa layak dinisbahkan sebagai seorang problem solver yang terpercaya, berdaya, dan jenial. Blok sosial yang bernama mahasiswa dimampatkan ke dalam entitas monolit pejal sehingga justru dilupakan bahwa sejatinya mahasiswa merupakan pluriformitas yang amorf dan multifaset.

Harus diakui pandangan tersebut terlalu simplistis. Masing-masing mahasiswa tentu memiliki keragaman dalam cara pandang hidup (worldview) dan kualitas personal. Ini artinya, menyematkan semua mahasiswa dengan berbagai keutamaan tinggi menjadi terasa berlebihan, atau setidaknya rapuh.

 Mahasiswa adalah Problem Solver!

Untuk mengatakan bahwa seorang mahasiswa merupakan problem solver yang tulen, kita perlu memeriksa secara saksama sikap-sikap positif (positive attitudes) yang melekat dan dihidupi oleh mahasiswa tersebut. Tiga sikap positif yang dipercaya menjadi keniscayaan bagi mahasiswa dengan gaya hidup seorang problem solver adalah sikap kritis, kreatif, dan inovatif. Paparan berikut akan berusaha menelisik bagaimana lanskap dari tiga hal tersebut berperanan dalam kehidupan mahasiswa.

Pertama adalah sikap kritis. Sikap yang kritis secara sederhana merupakan sikap yang dilandasi oleh rasa ingin tahu dan mempertanyakan apa yang ada di balik sebuah fenomena atau pertanyaan. Mahasiswa yang kritis mampu menjawab bagaimana-nya sebuah peristiwa (know how) dan bukan hanya sekadar apa-nya (know what). Mengetahui apa-nya adalah ciri khas man on the street yang mengandalkan common sense, dan tentu ini bukan khittah mahasiswa yang dalam kesehariannya digodok untuk mendalami suatu isu atau permasalahan sampai ke akar-akarnya melalui berbagai aktivitas intelektual. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, terjadi dialektika wacana yang semakin berkulminasi menuju pemahaman yang semakin komprehensif, integral, dan mendalam. Bersikap kritis menuntut mahasiswa untuk mengerahkan segenap daya reflektifnya. Pengerahan daya-daya reflektif hanya dapat dilakukan melalui pengambilan jarak terhadap masalah yang sedang dihadapi atau diperbincangkan, bukannya justru bersikap reaktif dan emosionil.

Sayang kenyataan menunjukkan bahwa gambaran tersebut hanya menjadi idealitas yang dihayati oleh segelintir mahasiswa. Faktual, mahasiswa dalam kesehariannya justru larut dalam pragmatisme cara pandang dan ini artinya absennya perenungan kontemplatif. Bagaimana ini bisa menerpa mahasiswa yang hidup dalam atmosfer akademik yang seharusnya penuh dengan kritisisme?

Jawabannya terletak di dalam kepala mahasiswa itu sendiri (baca: paradigma mental). Kuliah bagi kebanyakan mahasiswa dipahami tak lebih sebagai babakan hidup yang sedang dijalani setelah lulus sekolah menengah dan sebagai prasyarat mendapakan ijazah demi menjadi pegawai. Tidak ada keinsafan bahwa kehidupan perkuliahan berbeda secara paradigmatik dan radikal dibandingkan dengan fase-fase lampau kehidupannya. Akibatnya, kegiatan perkuliahan dipandang sebagai rutinitas hidup harian (business as usual) tanpa dibarengi upaya untuk menginstalasi sikap mental yang kompatibel untuk hidup dalam dunia akademik, yaitu kritisisme. Banyak mahasiswa yang tidak tertarik mengembangkan kualitas dan memperkaya pengalaman melalui kegiatan organisasi dan kompetisi. Kemahasiswaan mereka masih berada dalam tataran ada, bukan mengada apalagi menjadi.

Kita akan mendapatkan gambaran yang lebih terang apabila menarik kenyataan tersebut merembes ke luar pagar kampus, yaitu kehidupan masyarakat secara lebih luas. Universitas vis a vis kehidupan sosial nyata (Lebenswelt) adalah tarikan yang bertegangan seru antara kutub reflektif dengan kutub banalitas. Universitas sebagai penjaga kewarasan publik dan penyemai nilai-nilai kebudayaan dikepung secara total oleh nilai-nilai ekonomis pasar yang maujud dalam forma kapitalisme global.

Mungkin terdengar klise, tapi kenyataannya seluruh sendi kehidupan kita memang sedang dikepung oleh kekuatan gigantik kapitalisme. Akibatnya, seluruh kelas sosial masyarakat—termasuk mahasiswa—menjadi apa yang disebut Herbert Marcuse sebagai one-dimensional man. Dalam dunia mahasiswa, budaya populer merupakan wujud konkret dari kekuatan besar kapitalisme yang paling menggoda mereka. Budaya populer ini bersemayam dalam artefak budaya urban semacam mal, billboard iklan, bioskop, fashion, club, dan fast food.

Ini bukanlah kritik total terhadap gaya hidup urban yang dihidupi oleh sebagian besar mahasiswa. Adalah wajar manakala mereka mengakses tempat-tempat tersebut sebagai kanal rekreatif pelepas penat, namun menjadi menyedihkan tatkala sebagian besar fantasi dan aktivitas mahasiswa dihasratkan di dalamnya. Pendewaan akan gaya hidup adalah indikasi nyata dari majalnya atau malah matinya kritisisme mahasiswa sebab mereka tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban kekerasan simbolik yang dipaksa tanpa henti mengonsumsi tanda, merek, dan apa yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas. Mereka tak menyadari kekuatan yang bekerja di balik arus konsumsi yang mereka nikmati.

Semua ini dapat terjadi karena sebagian besar waktu luang mahasiswa dihabiskan bukan untuk kegiatan intelektual dan kebudayaan melainkan dialokasikan utuk mengonsumsi komoditas. Sungguh disayangkan, sebab sesungguhnya lebih daripada kuliah harian pemupukan sikap kritisisme didapatkan dari asketisme intelektual seperti membaca dan menulis.

Membaca dan menulis adalah sarana untuk mempertajam daya kritis mahasiswa karena melalui dua kegiatan tersebut, otak sebagai senjata kritisisme didayagunakan secara bermartabat dan tepat. Lewat membaca berbagai perspektif hidup dipahami, perbendaharaan kata bertambah, budaya berpikir dan berkonsentrasi disemai, dan tentunya pengetahuan meningkat. Sedangkan dengan menulis mahasiswa akan terlatih untuk menuangkan gagasannya dalam tulisan, pandai memilih kata dan istilah yang merefleksikan nuansa pikiran secara tepat, dan imajinasi dipacu. Menjadi mahasiswa yang berkarakteristik problem solver adalah penempaan persisten tanpa jemu melalui dua kegiatan tersebut sebab pemecahan masalah mempersyaratkan penguasaan bahasa yang baik. Filsuf Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa karena semua pemahaman dilakukan lewat bahasa, maka mempelajarinya akan menghasilkan gambar yang lebih akurat mengenai dunia. Perumusan pertanyaan—sebagai langkah awal pemecahan masalah—dikerangkai dengan kata-kata, maka ketika mahasiswa mempunyai pemahaman bahasa yang miskin dapat dipastikan akan kesulitan untuk mengartikulasikan masalah secara tepat.

Perangkat mental kedua yang diperlukan seorang mahasiswa untuk menjadi seorang problem solver yang handal adalah kreativitas dan inovativitas. Kedua sikap ini memampukan mahasiswa untuk secara taktis menyelesaikan masalah sebab perangkat mental ini memberikan kemampuan untuk melihat alternatif dan jalan keluar (loophole) yang luput dilihat oleh orang pada umumnya, bahkan dalam beberapa kesempatan mereka mampu mengkreasikan alternatif secara mandiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapainya. Seberapa jauh perangkat mental ini diinduksi dalam diri mahasiswa?

Pembacaan sosiologis sesungguhnya menempatkan mahasiswa dalam era ini lebih beruntung dibandingkan dengan era-era sebelumnya dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pemicunya. Dikatakan beruntung sebab kreativitas dan inovativitas akan lebih tersemai dengan kian mudahnya akses terhadap sumber-sumber informasi.

Namun bukan berarti mahasiswa tinggal mencomot manfaat yang disediakan di depan dirinya melalui kemajuan era informasi. Meminjam analisis Giddens, kita hidup dalam era postmodern yang ditandai dengan transisi dari corak produksi komoditas ke produksi informasi. Ini artinya, sesungguhnya masyarakat kita mengalami information overload. Maka tantangannya adalah bagaimana mengolah dan memilah informasi apa yang berguna dan berfaedah bagi peningkatan kualitas diri mahasiswa.

 Pertautan Kritisisme dan Kreativitas

Pada titik inilah terjadi pertautan yang erat antara keutamaan kritisisme dengan kreativitas dan inovativitas. Untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi secara bermanfaat, dibutuhkan kemampuan untuk menilai informasi manakah yang bermakna dan sebaliknya manakah yang sekadar merupakan informasi junk. Untuk itu, dibutuhkan kritisisme sebab daya kritis juga tak lain merupakan kemampuan untuk melihat makna dan nilai di balik informasi. Jelaslah, kemajuan teknologi informasi tidak dengan sendirinya meningkatkan kreativitas dan inovativitas mahasiswa.

Bagaimana kenyataannya? Kembali pesimisme melanda sebab banyak mahasiswa yang memanfaatkan jaringan internet tak lebih untuk hal-hal trivial dan bahkan libidinal. Mereka hanya menggunakannya untuk bersosialisasi via jejaring sosial, itu pun tidak secara produktif sebab lebih sering untuk berbasa-basi ria dan bukan untuk mengaktualisasikan diri melalui menampilkan tulisan yang bermakna, misalnya. Pemupukan kreativitas dan inovativitas juga membutuhkan ekosistem yang sesuai. Menurut Richard Florida, ekosistem kreativitas yang baik merupakan sinergi dari ketersediaan “teknologi, talenta, dan toleransi (3T)”—dengan tiadanya hambatan bagi ragam ekspresi budaya.

Teknologi, sebagaimana dicuplik di atas, bukanlah bermanfaat pada dirinya. Agar mampu memanfaatkan dan mengembangkannya secara optimal, dibutuhkan keterampilan dalam berhadapan dengannya. Selain kemampuan untuk memanfaatkan nilai dan manfaat yang inheren di dalamnya—dalam hal ini teknologi informasi dan komunikasi—dibutuhkan pula komitmen etis yang kuat agar untuk menghindari dianutnya kredo “apa yang dapat dilakukan, boleh dilakukan”. Di sini mahasiswa perlu mencanangkan komitmen pribadi untuk menentukan kriteria-kriteria etis sebagai pedoman memanfaatkan teknologi agar tidak terjerumus kepada penyalahgunaan teknologi.

Sedangkan berkaitan dengan talenta, diseminasi kreativitas secara meluas di kalangan mahasiswa hanya akan mekar manakala pluriformitas ragam talenta diafirmasi secara luas oleh kalangan pendidik, pemakai tenaga kerja, dan masyarakat luas. Selama ini masyarakat hanya menghargai jenis kecerdasan intelijensi-matematis. Padahal, manusia diciptakan dengan masing-masing bakatnya yang tidak hanya mencakup kecerdasan intelijensi-matematis namun juga intelijensi bahasa, musik, ruang, tubuh-kinestetik, antarpribadi, intrapribadi, dan naturalis. Masing-masing dari bakat tersebut sederajat dan akan bertumbuh secara mengesankan apabila dieksplorasi dan dikembangkan. Masing-masing bakat juga mempunyai cara yang khas untuk menyelesaikan masalah sehingga wajah mahasiswa sebagai problem solver bukanlah wajah yang berdimensi tunggal, namun berdimensi majemuk.

Agar mahasiswa mampu mengembangkan bakat pribadinya secara nyaman dan antusias, khalayak luas perlu dibukakan pemahamannya bahwa tiap-tiap bakat berpeluang untuk memberikan kontribusi meluas di tengah masyarakat dan proses pembangunan. Pihak universitas sebagai “rumah pengembangan bakat” mahasiswa dapat memulai perubahan ini. Caranya dengan memutar haluan cara pikir industrial yang terobsesi dengan jargon link and match menjadi cara pikir pedagogi yang bertujuan untuk semakin memanusiakan mahasiswanya melalui pengembangan aktualitas lewat talenta masing-masing pribadi.

Namun, harus diakui bahwa sesuai dengan kodratnya universitas lebih mengejar keunggulan kecerdasan logis sebab materi pengajaran yang diberikan memberikan pengayaan kognitif mahasiswa melalui aktivitas berpikir analitis, sistematik, dan terstruktur. Yang dimaksud dengan pemberian peluang bagi masing-masing talenta mahasiswa adalah membiarkan tiap-tiap mahasiswa menyelesaikan tugas dan soal-soal yang dihadapinya dengan metodenya sendiri-sendiri yang berjumbuh dengan bakatnya. Untuk mengembangkan kecerdasan logis dan interpersonal secara konstan, misalnya, dapat difasilitasi model pengerjaan tugas secara berkelompok. Atau untuk mengembangkan kecerdasan berbahasa mahasiswa, diberikan penghargaan kepada mahasiswa yang menuliskan paper-nya dengan bahasa-bahasa sastrawi namun tetap serius.

Toleransi juga menjadi faktor yang tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan kreativitas dan inovativitas mahasiswa. Tanpa adanya iklim yang saling menghargai malah justru saling mengancam dan mendiskriminasi, kreativitas dan inovativitas tak akan merekah karena kondisi kebatinan komunitas tempat mahasiswa berkarya dipenuhi dengan batasan-batasan. Batasan-batasan itu dapat diwujudkan melalui larangan, cemoohan, fatwa, rambu moral, dan stereotyping yang disuarakan oleh pihak-pihak tertentu yang memuja simbol-simbol primordial.

Universitas dapat menjadi kawah pembelajaran yang baik untuk menempa toleransi antarmahasiswa. Sejak awal sejarahnya universitas merupakan tempat pertemuan berbagai orang yang datang dari berbagai latar belakang budaya, agama, bahasa, ideolologi yang saling berinteraksi. Di situlah orang tanpa diskriminasi dapat belajar, mengadakan penelitian, dan mengkomunikasikan gagasannya. Tantangannya adalah bagaimana meluaskan koeksistensi tersebut ke dalam dimensi-dimensi yang lebih luas dari ranah akademis yang bisa jadi beberapa mahasiswa melakukannya secara terpaksa sekadar demi memenuhi tugas-tugas kuliah. Toleransi harus dipupuk lebih daripada sekadar toleransi negatif berkegiatan bersama tanpa saling mengusik menjadi toleransi positif yang proaktif mengajak sesama mahasiswa yang berbeda latar belakang dan keyakinan untuk berkarya bersama dalam penghargaan yang mutual dan resiprokal. Apabila ini dapat tercapai, dalam mencebur ke kehidupan masyarakat nyata pun toleransi positif ini pun dapat dengan ringan dilakukan. Ini mensyaratkan dialog dan kerjasama yang intensif dan tanpa prasangka.

Demikianlah pembacaan yang perlu diperhatikan bagi setiap mahasiswa yang berikhtiar untuk membudayakan gaya hidup sebagai problem solver yang bermanfaat bagi kehidupan luas. Kritis, kreatif, dan inovatif merupakan tiga sikap positif utama yang harus dipupuk dan dikembangkan melalui pendekatan yang tepat. Semua ini perlu diusahakan secara bersama antara mahasiswa, pihak universitas, dan masyarakat agar predikat mahasiswa sebagai penarik gerbong sejarah republik dan problem solver tidak menjadi mistifikasi dan julukan kopong (bahasa Jawa: kosong) semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s