Sambal, Makanan Paling “Membakar” Lidah di Dunia

https://i2.wp.com/assets.kompas.com/data/photo/2011/08/26/1542374620X310.JPG

Pernah dengar makanan yang begitu pedas hingga dapat digunakan untuk mengusir gajah? Hal ini benar-benar terjadi.

Jika Anda berpikir Anda memiliki nyali untuk mengambil sendok dan mencoba makanan-makanan yang bisa membuat lidah Anda terasa terbakar, inilah daftar makanan paling “membakar” lidah versi Lonely Planet. Bhut Jolokia, India. Guinness Book of Records telah memberikan sertifikat kepada Bhut Jolokia alias ‘Naga Chilli’ atau ‘Ghost Chilli’ sebagai cabai terpedas di muka bumi.

Tidak mengherankan, penduduk lokal di timur laut India, tempat cabai ini tumbuh, telah lama mengunakannya sebagai pengusir gajah. Sebagai referensi, Bhut Jolokia memiliki kepedasan 200 kali lebih pedas dari jalapeno (cabai asal Meksiko). Bhut Jolokia ini menjadi bumbu pokok beberapa masakan kari khas India.

Thai Yam, Thailand. Masakan Thailand adalah salah satu makanan terpedas di dunia. Sementara yam atau ubi merupakan makanan khas orang Thai.

Sebuah menu sejenis sup terdiri dari  air jeruk nipis, cabai, sayuran, mi, daging atau biasanya makanan laut, dan tentu saja yam itu sendiri. Cabai yang digunakan dalam makanan Thai Yam disebut prík kêe n?o alias cabai mata burung.

Sambal, Indonesia. Siapa yang tidak kenal makanan pedas satu ini sebagai cocolan makanan apa saja. Mulai dari ayam goreng, ikan bakar hingga lalapan dapat dicocol dengan sambal untuk menambah rasa pedas. Variasi sambal pun ada banyak, mulai dari sambal terasi, tomat hingga sambal mangga. Phaal, India. Phaal merupakan jenis kari yang berasal dari restoran India di Inggris. Phaal ini adalah salah satu kari terpedas, bahkan lebih pedas dari Vindaloo (kari yang berasal dari India juga).

Phall telah mencapai ketenaran sebagai hidangan utama terpedas dari restoran India. Sebagai contoh, Brick Lane Curry House di New York akan memberikan bir gratis dan sertifikat bagi pelanggan yang mampu menyelesaikan Phaal ini, saking pedasnya.

Sichuan Hot Pot, Cina. Anda duduk di salah satu restoran di mana saja di Sichuan, China, yang menyajikan kompor di setiap meja. Pelayan akan meletakkan panci besar disebut hot pot di atas kompor tersebut.

Di dalam hot pot tersebut tersebut, di sisi satu terisi kaldu ikan pedas berwarna merah menyala yang telah dicampur cabai dan merica Sichuan, di sisi lain kaldu ikan yang gurih dan tak pedas.

Daging mentah dan sayuran yang tersedia dapat Anda rebus bersama kaldu itu. Bumbu yang membuat kaldu merah itu sangat pedas adalah merica Sichuan.

Peruvian Cau Cau, Peru. Peru memenangkan hadiah atas makanan yang paling membuat orang meneteskan air mata se-Amerika Selatan, saking pedasnya. Cabai Aji Amarillo yang membuat masakan ini begitu pedas, yaitu sebuah cabai bewarna kuning yang sangat pedas.

Campuran kari cau-cau ini adalah babat dan kentang, kadang-kadang juga seafood, tetapi selalu dikombinasikan dengan kunyit, cabai dan daut mint. Kentang dan nasi dapat menemani hidangan cau-cau ini untuk mengurangi pedasnya kuah cau-cau.

Jamaican Jerk, Jamaika. Konsep makanan ini sederhana, daging direndam dengan rempah-rempah dan juga campuran cabai scotch bonnet selama 12 sampai 24 jam sehingga bumbunya meresap ke dalam. Daging menjadi panas karena rendaman tersebut.

Yucatán Habanero Salsa, Meksiko. Cabai habanero berasal dari Semenanjung Yucatan, Meksiko. Di sini tumbuh cabai dengan warna-warni. Ada hijau, oranye, merah, dan merah gelap.

Yucatan Habanero Salsa ini dibuat dari cabai yang diblender dengan bawang putih, air jeruk nipis, garam, tomat dan bawang merah. Cocok dimakan bersamaan dengan jagung, ayam, ataupun seafood.

West African Pepper Soup, Afrika. Ghana, Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria memiliki versi yang berbeda dalam mengolah sup ini. Bahan-bahan tambahannya pun berbeda-beda.

Kadang yang dipakai bisa kaki ayam, babat, ikan, dan seringkali tomat, dan cabai merah yang membuat rasanya pedas. Terutama ketika menggunakan cabai scotch bonnet. Disajikan dengan nasi putih atau fufu (adonan ubi yang ditumbuk).

Vindaloo, India. Portugis memperkenalkan vindaloo ke India ketika mereka berlayar ke Goa pada abad ke-16, dan nama itu berasal dari kata Portugis yaitu vinho (anggur) dan alhos (bawang putih) sebagai bahan utama asli.

Penduduk Goa menambahkan daun mint, jahe, cengkeh, dan cabai pada makanan yang umumnya adalah berbahan daging babi atau udang. Lidah Anda mungkin akan berdenyut-denyut ketika merasakan vindaloo ini yang sekilas bentuknya mirip rendang.

Sumber : http://travel.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s